Choi Ahra_You Did Well




Oleh: Choi Ahra

 

Menulis adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk menumpahkan apa yang sulit untuk kamu ungkapkan.

 

Teoriku seperti itu. Selalu begitu lebih tepatnya.

 

Saat kamu enggak bisa mengutarakan apa yang ingin kamu sampaikan, menulis menjadi salah satu cara untuk mengatasinya.

 

Kamu bisa menceritakan apa saja, termasuk rasa kelelahan yang orang lain enggak mengerti dan selalu dipandang berlebihan.

 

Kamu berjuang dengan tulisanmu.

Jangan pedulikan mereka yang meremehkan apa yang kamu tulis. Tenang, masih banyak orang yang akan mengapresiasimu atau bahkan yang selalu menantikan tulisanmu.

 

Kamu tahu apa yang sang penulis pikirkan saat membuat cerita?

 

Mungkin kamu akan berpikir kalau menulis adalah menulis. Titik.

Tapi, bagi sang penulis, menulis adalah dunianya. Mereka bisa membangun apa saja yang mereka pikirkan. Menerka-nerka penuangan kata yang cocok agar pesannya dapat tersampaikan.

 

Saat kamu menulis, kamu akan mampu menjadi apapun. Siswa, orang tua, makhluk mitologi, atau pencabut nyawa sekalipun.

 

Kamu adalah perannya.

 

Mereka mungkin akan berkata kamu tukang mengkhayal atau menderita banyak kepribadian.

 

Enggak apa-apa.

 

Kadang dalam hidup kita membutuhkan khayalan untuk menyenangkan diri sendiri dan tentu saja untuk menyembuhkan luka hatimu.

 

Seperti beberapa waktu lalu, aku membaca berita mengenai buku harian yang baru terungkap saat kasus bunuh diri. Di sana tertulis berbagai kalimat yang bisa membuatmu meringis, namun bangga dalam waktu yang sama.

 

Kata "baik-baik saja" menjadi kata yang paling banyak ditemukan. Gadis itu berhasil bertahan lebih lama. Dia menggunakan tulisan untuk  menjadi media penyembuhan, meskipada akhirnya ia tetap memilih untuk pergi selamanya..

 

Dengan pesan yang ia tulis, kamu bisa belajar untuk meyakini dirimu baik-baik saja dengan sebuah tulisan. Rasa sakit itu akan sedikit berkurang, meski akhirnya kamulah yang menentukan pilihan.

 

Pernah enggak kamu membaca kisah suram dibalik cerita Cinderella? Saudara tirinya terpaksa memotong jari kaki untuk membuat sepatu itu pas.

 

Namun, yang sering kita dengar malah sebaliknya, bukan?

 

Dalam dunia menulis, tidak jarang sang penulis berusaha membuat sudut pandang yang berbeda; mengajakmu berpikir lebih jauh dan mendalami hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Kamu diajak melihat sisi-sisi yang belum pernah kamu tahu sebelumnya. Misalnya: bumi itu datar, persegi, segitiga, atau trapesium. Planet lain akan muncul dalam sistem tata surya karena perbuatan alien.⁣

Semua bisa kamu temukan sesuai dengan keinginanmu.

 

Kamu pernah memiliki cita-cita menjadi seorang tersangka dengan orang lain yang menjadi detektif?

Bisa. Kamu bisa melakukannya dengan menulis.

Kamu dapat membangun apa yang kamu inginkan di ceritamu. Membuat pembaca menerka apa yang akan terjadi di bagian selanjutnya, dan tanpa sadar mereka akan menjadi seorang detektif, sedangkan kamu adalah pelakunya.

 

Tapi, terkadang, sang penulis menyisipkan kisah nyata mereka dalam cerita yang tengah mereka buat. Atau justru memang kisah itu sengaja ditulis untuk menceritakan diri mereka sendiri.

 

Label 'berdasarkan kisah nyata', sudah menjadi acuan. Lalu, pernahkah berpikir bahwa cerita tanpa embel-embel label seperti itu, juga berdasarkan kisah nyata mereka? Jadi, silakan menebaknya!

 

Tapi, ingat! Kamu juga harus konsisten dengan tulisanmu ketika membuat suatu cerita.

 

"Jangan jadikan menulis sebagai beban, tapi buatlah menulis sebagai hal yang menyenangkan!"

 

Kata-kata itu tidak sepenuhnya benar, dan tidak sepenuhnya salah. Bagiku, menulis memang hal yang positif. Tetapi, dalam waktu tertentu, menulis adalah tanggung jawab yang harus segera dipenuhi.

 

Kesibukan tidak pernah dapat dihindari, begitu juga mood. Tetapi, sebaiknya selesaikanlah dengan baik apa yang sudah kamu mulai. Tuangkan rasa tanggung jawab setiap kamu meyakini diri untuk mengikuti kegiatan. Jangan hanya menerimanya di bagian awal, lalu, kamu tinggalkan begitu saja.

 

Enggak mau, 'kan kalau ditinggalin lagi sayang-sayangnya? Heh!

 

 

 

Lagi pula, menulis juga bisa menjadi satu upaya untuk mengisi waktu senggang.

 

Ketika kamu bingung untuk melakukan hal apapun, mendengarkan musik atau menonton film biasanya menjadi pilihan yang baik untuk mengusir kadar kebosanan. Tapi, sudahkah pernah mencoba menulis? Jika sudah, apa yang kamu rasakan? Cerita apa yang sudah kamu bagikan?

Jika belum, maukah kamu menulis beberapa kalimat saja? Misalnya, keinginan kamu sepuluh tahun dari sekarang.

 

Apapun! Kamu boleh menulis semua yang kamu mau, termasuk memimpikan menikah dengan Nicholas Saputra, dengan Oppa-oppa Korea atau tinggal satu komplek dengan Hotman Paris.

 

Selain bermimpi, kadang aku pernah bertanya pada diriku sendiri.

 

"Siapa aku?"

 

"Apa alasanku hidup?"

 

"Kenapa aku bisa hidup?"

 

Apa kamu pernah berpikir begitu juga? Biasanya pertanyaan random mengenai dirimu akan muncul saat kamu terjaga di tengah malam. Beberapa diantaranya mungkin akan membawa dan menarik kamu ke waktu di mana kamu beranggapan harimu sangat sulit dan bernapas pun seakan enggak ada gunanya.

 

Pada dasarnya, manusia memiliki cara pandang berbeda menghadapi suatu masalah. Mereka akan memilih memakai topeng kebahagiaan alih-alih menunjukan kesedihan. Tapi, ada juga manusia yang sudah berusaha menunjukan kesedihan, tapi masih dianggap sebagai sebuah pencitraan.

 

Bagiku, menulis bisa membuatmu lebih mengenal dirimu. Apa yang kamu inginkan dan rasakan bisa kamu tuangkan dengan bebas.

Jangan takut dibilang "kamu curhat?", "sedih banget? Hidup itu harus dibawa senang-senang. Jangan berlebihan deh!"

 

Karena kamu adalah dirimu.

Duniamu adalah warnamu.

Dan kamu harus hidup, bukan hanya bernyawa. Pikirkanlah apa yang membuatmu bertahan lebih lama. Jika tidak ada, maka menangis saja, lalu peluk dirimu. Katakan kalau kamu adalah seseorang yang hebat; yang mempu bertahan walau sulit.

 

Atau, tulis saja dalam secerik kertas. Aku menulis sebagai jalan untuk menunjukkan warna diriku yang tidak banyak orang tahu.

 

Jika kalian berpikir tulisanku penuh akan komentar pujian, kalian salah.

Aku tipe manusia yang enggak suka dipuji. Bagiku, pujian justru membuatku menjadi pusat perhatian, dan aku tidak menyukainya. 

 

Lalu?

 

Menulis bagiku adalah jalan untuk melepaskan semuanya.

Tidak perlu dihitung berapa kali aku mengangkat tema tentang kesehatan mental. Aku juga tidak peduli dengan sebutan 'kepribadian ganda' setiap kali aku memerankan tokoh yang berbeda dalam ceritaku.

 

Aku ... adalah aku. Bukan mereka.

 

Dengan menulis, kamu bisa memiliki kekuatan tanpa kamu sadari. Kata "baik-baik saja" yang kamu tuliskan dalam catatan kecil saat kamu merasa semua sedang tidak baik-baik saja, itu akan membuatmu bertahan lebih lama.

 

Menulis adalah ... dirimu.

Coba kamu baca ulang semua yang telah kamu tulis. Lihat! Kamu hebat, 'kan? Kamu bisa menuangkan kata demi kata sebanyak itu dengan kalimat-kalimat yang sederhana, namun bermakna.

 

Apa? Kamu merasa tulisanmu jauh dari kata layak?

 

Hei! Siapa yang bilang?

 

Alasanmu untuk menulis adalah kamu. Dan alasanku pun begitu.

Aku berharap dengan semua yang aku tulis, aku akan membuatmu lebih baik lagi, membuatmu enggak pernah merasa sendirian.

 

Hei, Kamu!

Terima kasih sudah bekerja dengan sangat keras.

Kamu yang terbaik!

 

 

Bekasi, 07 Agustus 2020

 

 

 

 

 

 

Tentang Penulis:

 

Hello, namaku Dira, nama pena-ku Choi Ahra.  Aku mulai belajar menulis setelah bergabung dengan komunitas AstraFF. Aku juga suka Korean Pop, drama Korea.

Oh iya, ada satu penggalan lagu yang selalu aku suka.

 

"You did well today, you worked so hard.

You are my prize." –Jonghyun_End of the day-

Share:

3 comments :

  1. Nggak bisa berhenti baca sebelum habis.

    Apa ya? Tulisan ini sederhana. Pemilihan kata ataupun kalimatnya cukup ringan. Namun, banyak pesan yang bisa diambil.

    Aku suka nulis. Kadang aku nggak percaya diri dengan apa yang kutulis. Aku selalu ngebandingin tulisanku dengan punya orang lain dan hasilnya aku merasa kalau tulisanku nggak layak.

    Lalu setelah baca ini, aku mikir. Buat siapa sih aku nulis? Buat aku sendiri 'kan? Buat nyenengin diri sendiri 'kan? Lalu kenapa harus mikirin hal yang lain/orang lain.

    Oke. Kepanjangan. Terima kasih buat Dira. Tulisan ini membuatku kembali mendapatkan semangatku lagi. Semangat untukmu~

    ReplyDelete
  2. Nggak bisa berhenti baca sebelum habis.

    Apa ya? Tulisan ini sederhana. Pemilihan kata ataupun kalimatnya cukup ringan. Namun, banyak pesan yang bisa diambil.

    Aku suka nulis. Kadang aku nggak percaya diri dengan apa yang kutulis. Aku selalu ngebandingin tulisanku dengan punya orang lain dan hasilnya aku merasa kalau tulisanku nggak layak.

    Lalu setelah baca ini, aku mikir. Buat siapa sih aku nulis? Buat aku sendiri 'kan? Buat nyenengin diri sendiri 'kan? Lalu kenapa harus mikirin hal yang lain/orang lain.

    Oke. Kepanjangan. Terima kasih buat Dira. Tulisan ini membuatku kembali mendapatkan semangatku lagi. Semangat untukmu~

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis