Sebuah Perjalanan untuk Menemukan



Oleh: Nur Irma Noviyanti

 

Perihal menulis, awalnya aku merasa tidak begitu suka dengan itu. Hanya sebatas menuntaskan kewajiban, menyelesaikan tugas yang diberikan. Sudah. Tidak ada hal istimewa.

Jika saat itu ada yang bertanya tentang apa alasanku menulis, mungkin aku akan menjawab 'aku menulis karena dipaksa menulis'.

Bisa kamu bayangkan, bagaimana rasanya melakukan sesuatu yang tidak benar-benar kamu sukai? Bagaimana jadinya jika melakukan sesuatu karena tuntutan orang lain?

Pusing. Tentu saja itu yang aku rasakan. Tapi, kenapa aku masih tetap menulis sampai sekarang?

Untuk bisa bertahan, berbagai alasan pernah menjadi bagian dalam perjalanan menulisku. Ada satu fase di mana menulis menjadi satu-satunya jalan pembuktianku ke orang lain. Alasan yang menurutku begitu klise, aku menulis untuk membuktikan bahwa aku bisa melakukannya. Ya, aku bisa melakukan sesuatu. Aku bukan telur yang tidak bisa menetas dan berkembang seperti anggapan mereka. Aku sudah membuktikan bahwa dengan menulis, aku bisa menghasilkan karya yang bisa dinikmati banyak orang.

Semakin banyak yang menikmati tulisanku, semakin bertambah pula yang mengenalku. Hal itu memunculkan alasan baru untuk terus menulis. Aku ingin dikenal banyak orang. Bukan hanya di lingkungan terdekatku, tapi meluas hingga tempat yang jauh.

Aku ingin karyaku dinikmati, dibaca berulang kali dengan senang hati. Seperti yang pernah aku lakukan dulu pada para penulis yang karyanya membuatku betah berlama-lama di pojok perpustakaan. Aku ingin dikenal, tidak hanya sebagai penulis yang melahirkan banyak karya. Lebih dari itu, aku ingin dikenal sebagai penulis yang karyanya mengena di hati.

Sayang sekali. Keinginanku untuk dikenal banyak orang nyatanya tidak bertahan lama. Dikenal banyak orang perlahan membuatku lupa.

Lupa pada diri yang sudah berjuang. Lupa akan rasa yang selalu disisipkan dalam karya. Aku semakin merasa asing pada tulisanku sendiri. Hingga aku mendapati seakan ada ruang kosong di hati. Aku kehilangan jati diri sebagai penulis. Tulisanku tidak bisa lagi bercerita. Tulisanku tidak punya rasa. Tulisanku hanya mengikuti kata mereka.

Gelisah pun melanda. Aku merasa tulisanku tidak begitu bagus, meski aku sudah berusaha keras menulisnya. Aku mulai membandingkan tulisanku dengan tulisan orang lain. Aku bukan apa-apa, tidak sebanding. Writer's block yang aku alami membuatku memutuskan untuk vakum menulis. Rasanya aku butuh waktu untuk mencari alasan yang lebih kuat untuk bisa menulis lagi. Tentunya berusaha pula untuk mengembalikan jiwa pada tulisanku.

Dalam masa vakum menulis. Aku jadi banyak merenung. Berusaha mencari makna sebenarnya dari tulisanku. Setidaknya memaknai untuk diriku sendiri. Seberapa penting menulis itu bagiku. Seberapa berharga arti tulisan bagiku.

Awalnya aku pikir tidak menulis pun tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Ternyata tidak demikian. Tidak menulis menjadikan ide yang muncul di pikiranku jadi benang kusut. Tidak menulis membuat perasaanku semrawut.

Saat diri semakin sulit menentukan pilihan. Menepi lebih lama atau segera beranjak dari vakum menulis yang panjang. Satu kalimat yang diucapkan seseorang yang aku hormati, sedikit membangunkan keinginan menulisku.

'Mintalah mereka untuk menuliskan emosinya, itu bisa membantu mengobati psikisnya'.

Expressive writing. Satu yang aku pikirkan saat itu. Bisakah?

Rasa penasaran yang begitu besar membuatku ingin mencobanya. Menuangkan setiap emosi yang mengalir dalam diri. Sederhana saja. Seperti bercerita. Seperti menulis buku harian pribadi.

Menjadikan tulisan sebagai media katarsis, membuatku lebih bisa mengatur emosi dalam diri. Melepaskan emosi negatif yang muncul, lalu menggantinya dengan emosi yang lebih positif. Kadang kala, aku menyusunnya menjadi tulisan yang lebih sederhana dan bisa aku bagikan di media sosial yang aku punya.

Ternyata yang aku lakukan itu tidak hanya berdampak bagi diriku sendiri, tapi berdampak juga bagi orang lain. Tulisan yang aku jadikan sebagai pengingat diri sendiri, ternyata bisa menjadi pengingat bagi orang lain. Mendengar bahwa orang lain terbantu karena tulisanku, meski aku tidak merasa melakukan apapun. Aku sangat bersyukur.

Sejak saat itu, aku mulai fokus menulis lagi. Namun kali ini bukan untuk membuktikan ke orang lain, bukan untuk mencari ketenaran, bukan pula mengikuti keinginan orang lain. Aku menulis untuk menyembuhkan diri dari emosi negatif yang bisa muncul kapan saja. Aku menulis untuk membantu orang lain menyembuhkan dirinya. Aku berharap niat itu bisa sampai kepada para pembaca, membuat mereka lebih optimis dan bahagia dalam menjalani hidupnya.

Aku percaya setiap yang kita lakukan, baik atau buruk, semua akan kembali ke diri kita.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri..." (QS. Al-Isra' 17: 7).

Oleh karena itu, aku akan berusaha menuliskan hal-hal baik yang kebermanfaatannya bisa dirasakan semua yang membacanya, insyaa Allah. Satu alasan paling kuat yang harus selalu aku ingat adalah aku menulis untuk mendapat rida Allah, bukan yang lain.

 

Tentang Penulis:

Nur Irma Noviyanti, lebih akrab disapa Novi. Penulis senang mempelajari hal-hal terkait manusia dan perilakunya, karena menurut penulis memahami manusia menjadi salah satu cara untuk lebih mengenal Sang Pencipta. Bisa kunjungi instagram @irma.noviya untuk terhubung dengan penulis dan melihat tulisannya yang lain.

 

Share:

2 comments :

  1. Terus bermanfaat dan menginspirasi. Salam takzim. Your secret admirer ��

    ReplyDelete
  2. Gokil mbak Novi... Satu hal dari tulisan anda diatas, "expresive writing". Itu bener2 kena banget... Ditunggu karya2 slanjutnyah yah,... Salam buat mentornya yg sekarang, mentor plus imam seumur hidup... Hehe...

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis