Dasa Dalil Aku Menggubah

Oleh: Glory Samuel 

    Mengapa aku ingin jadi penulis? Kalau dipikir lagi, hidupku baik-baik saja tanpa harus jadi penulis. Waktu luangku sudah terbatas dan berusaha menghasilkan karya hanya menambah beban kesibukan. Adapun kalau soal uang, apa yang kukerjakan sudah memberi kecukupan. Terus kenapa aku harus repot-repot? Ternyata kesadaran itu timbul ketika aku tahu bahwa menghasilkan tulisan yang baik adalah talenta yang dititipkan kepadaku. Aku cuma seorang hamba yang wajib menjalankan apa yang sudah dikaruniakan. Oleh karena itu aku giat menulis dan mengembangkan bakat ini semampuku. Aku berharap Ia berkenan dengan apa yang sudah kuusahakan ketika suatu hari nanti aku bertemu denganNya.



    Jika nanti aku mati tanpa meninggalkan warisan siapa yang akan mengingatku? Mungkin keturunanku. Lalu jika mereka pun tiada, siapa lagi yang akan mengenang? Aku tidak punya banyak harta sehingga kekayaan bukanlah hal yang bisa kutinggalkan. Meski demikian, aku punya pemikiran bermanfaat yang bisa kuoper kepada generasi selanjutnya. Itulah warisanku untuk dunia. Aku yakin, semakin berkesan akan semakin sulit melupakan apa yang kutuliskan. Aku ingin sama seperti mereka yang sudah tiada namun senantiasa dikenang karena pernah menorehkan wacana yang brilian. Dengan menulis, walau tak abadi, aku ingin lama dikenang orang. 

    Aku tak ahli merangkai kata namun sekuat jiwa aku coba untuk melakukannya. Mau tahu alasanku? Pastinya kamu! Cuma kamu yang kupikirkan di sepanjang proses menggoreskan ide. Segala hal, baik yang kamu suka atau tak kamu inginkan, itulah yang aku pedulikan. Aku selalu membayangkan saat-saat seperti ini ketika akhirnya kau menatap apa yang kucurahkan. Kamulah alasanku menulis dan aku percaya tulisan ini suatu hari akan menemukan kamu. Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Tentu saja darimu. Pembacalah yang paling tahu apakah suatu karya memang untuknya atau bukan.          

    Aku ingin mengajakmu tersenyum atau berduka karena apa yang kau baca. Kau harus tahu, aku menulis karena senang menggugah emosi. Semua komposisi selalu kucipta sedemikian rupa untuk meninggalkan jejak pada pikiran penikmatnya. Untuk membuat suasana batin yang demikian, sering kali kupakai pengalaman pribadi baik sebagai materi atau sekedar inspirasi. Diksinya kupilih dengan teliti karena kalau terlalu datar bisa dianggap basa-basi sementara jika terlalu lebay akan dibilang pansos. Alih-alih menimbulkan afeksi positif malah sentimen negatif yang dibangkitkan. Apapun itu kupastikan pakai hati untuk merasain sebelum dipublikasikan. Setelah itu, aku akan bersiap untuk menghadapi reaksimu.


    

    Segala yang ramai terjadi di ruang nyata aku suratkan dengan rapi di ruang kata. Aku mengaku alay karena berusaha merekam sebanyak-banyaknya momen kita untuk dibaca kelak saat sedang melupa. Aku menulis untuk mengingat kisah kita. Jadi baca ya, Sayang. Kutuliskan dengan sudut pandangku dengan sepenuh hati. 

    Aku tahu akan ada hari yang sepi ketika sanubariku tak bisa dimasuki. Kukira pintunya tertutup, namun ternyata itu hanya karena masih ada kenangan yang memadati. Kenyataan telah jauh pergi sementara aku terjebak di ruang hati. Menulis rupanya telah membuatku banyak mengingat namun aku tahu menulis juga memampukanku untuk melepas. Walau sulit melupakan, dengan perlahan kupaparkan jejak ingatan. Dengan menggoreskan paragrafnya semua memori mengalir keluar dan aku pun dibebaskan. Aku tak lagi sendiri karena ada dunia yang menemaniku saat membacanya. Mereka akan menangis bersamaku atau bahkan mengatakan sesuatu yang membuatku bisa tertawa. Dan setelahnya, kuharap nostalgia akan memudar ditimpa memori baru yang digoreskan oleh celoteh mereka yang bersedia membersamaiku.

    Ada waktunya aku sendirian dan tenggelam dalam renung refleksi. Ini momen yang sangat tepat untuk mendefinisikan diri. Insan macam apakah aku? Introvert atau ekstrovert, koleris atau melankolis, ternyata bisa kutemukan dalam paragraf yang kutulis. Ketika jujur, aksaraku merefleksikan karakterku. Semua pemikiran, impian, rencana bahkan kehaluan menyumbangkan setiap keping yang dibutuhkan untuk melengkapi gambaran kepribadian. Ya, dengan menulis aku jadi paham aku tipe manusia seperti apa. 

    Dunia ini sering tak menjawab kerinduan penghuninya karena hal-hal yang tidak dapat dicapai. Cinta tak berbalas dan status ekonomi-sosial yang terbatas adalah contoh dari harapan yang dipadamkan oleh fakta. Beberapa orang berusaha menggapai impian dengan cara tak sehat dan makin menderita karena tetap jauhnya jarak keinginan dengan kenyataan. Sebagian lagi dengan cerdasnya mencipta semesta alternatif tempat ia bisa menjadi dalang cerita dan semua khayalan dapat jadi realita. Karenanya, daripada larut dalam lamunan kucoba menggoreskan aksara. Dengan menulis aku mengesahkan angan-angan bahkan memonetisasi kehaluan. Benar lho, berimajinasi bisa menghasilkan money! Kalau mau bukti terbitkan saja tulisanmu supaya orang bisa membelinya. 

    Sudah puas dengan pencapaian tahun ini? Jika ingin mengevaluasi hal-hal yang sudah dilakukan tengoklah kembali rencana yang pernah dibuat. Masalahnya sekarang apakah hal-hal tersebut pernah dituliskan? Ide perlu direkam dan rencana perlu dijabarkan dalam catatan agar kamu bisa membacanya. Pelaksanaan suatu kegiatan akan makin baik jika kita melakukan siklus ini: mencari ide, memformulasikan tujuan, menuliskan langkah pelaksanaan, melaksanakan rencana dan menilai pencapaian dengan mereview rencana yang pernah dibuat. Setelah itu kembali ke tahap pertama lagi dan seterusnya. Bayangkan, jika rencana tak pernah dituliskan, bagaimana siklus itu bisa dilaksanakan?


sumber gambar: https://images.app.goo.gl/643hbYkN2R9t3Afx9   

    

    Akhir kata, apa pendapatmu setelah membaca semua yang sejak tadi kusampaikan? Aku memang senang menulis untuk membangun opini dan tak keberatan kau menguji pondasinya. Tolong jangan cuma diam atau serta-merta berkata 'ya' setelah membaca karena sudah pasti isi kepala kita berbeda. Silakan ketuk-ketik komentar untuk memancing perdebatan santun. Tanggapan yang menggelitik biasanya berlanjut dengan persahabatan. Kuharap. Tinggalkan pesan untukku ya? Aku tahu waktumu mahal dan jika kau mau menyisihkannya untukku itu sangat berarti. Sebelumnya, terima kasih kuucapkan karena kau mau membaca sampai di titik ini. Love you so much!

 

Tentang Glory Samuel

Glory lahir di Jakarta, 30 Desember dan sekarang menetap di Bogor. Senang menulis apa saja, namun spesialisasinya adalah fiksi genre amore. Bekerja di dunia pendidikan memberikannya ide berlimpah untuk menulis dan itu adalah hal yang sangat ia syukuri. Jika berkenan, silakan bersilaturahmi di akun Instagram @glwrxy, semua DM dibaca, kok.

 

Share:

1 comment :

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis