10 Alasan Aku Menulis

       

Oleh: Athirah Irbah Izzetya


1.      Ada Buku yang Harus Dibaca

Aku sangat menyukai buku, dalam sebulan bisa melahap habis 3 sampai 4 buku bacaan. Tepat ketika kelas 5 SD aku memutuskan untuk beralih genre bacaan ke fantasi, fantasteen.

Dengan cepat buku itu selesai dibaca hingga berulang kali, "Ghost Dormitory" judulnya. Sampai aku merasa jenuh dan ingin menuliskan kembali apa yang telah ku baca. Hingga berulang kali pula aku menuliskannya.

Tak kunjung bosan dan aku menyadari bahwa aku harus banyak membaca. Jika tidak tentu apa yang aku tuliskan hanya seputar hal yang aku ketahui.


2.      Ada Pengalaman yang Harus Dibagikan

Adaptasi merupakan suatu hal yang sudah biasa untukku, Alhamdulillah. Setelah kesekian kalinya berpindah hingga Pulau Kalimantan sukses disinggahi tanpa terkecuali.

Dan dari situ aku memahami keadaan lingkungan yang berbeda-beda. Aku memang seorang introvent, dan itulah yang menjadikan aku senang diam mengamati.

Beruntungnya aku cukup menikmati. Tidak mempermasalahkan perasaan kehilangan ataupun sulitnya melepaskan. Aku senantiasa menuliskannya, entah sekadar poin penting hingga pada akhirnya menjadi sebuah cerita.


3.      Ada Pesan Tertulis untuk Diri

Selamat beranjak ke masa putih abu-abu! -06 Juli 2018-

Dan sekarang gak kerasa udah dipenghujung aja, hiks.

Sebenarnya dalam beberapa kurun waktu tertentu kita sudah mengalami masa ini, semenjak TK. Jujur, berada dijenjang pendidikan mungkin tujuannya hanya karena, nilai, ilmu, kewajiban, teman, dan pengalaman.

Bahkan bagiku dulu masa sekolah hanya akan berlalu begitu saja. Namun, tidak setelah aku memulai kegiatan tulis-menulis.

Sembari membiarkan mesin arloji bergerak menjalankan tugasnya, pun begitu aku sebagai seorang remaja usia 17 tahun. Detingan waktu mengajarkan tentang kedewasaan secara bertahap. Dan aku rasa aku lebih memahaminya bahkan hingga mencintainya semenjak memulai kegiatan tulis-menulis.

Lebih menghargai waktu, terutama diri. Dan terlebih paham akan tujuan kedepannya, insyaAllah. 


4.      Ada Ilmu yang Harus Diikat

Hidup tanpa ilmu, bagai cerita tanpa rasa. Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim. Ada beberapa adab dalam majelis ilmu yang mungkin seringkali kita lupakan.

Imam Asy Syafi'i rahimahullah berkata,"Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja."

Di zaman sekarang akses internet terbuka sangat mudah dimana sarana copy-paste kerap kali diandalkan. Karenanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya"

Ilmu sudah seharusnga diikat dengan tulisan, namun tak lupa juga dengan amal. Karena sekarang ini amal sangatlah dibutuhkan.


5.      Ada Pendapat yang Ingin Disampaikan

Manusia diberikan indera yang amat luarbiasa untuk merasakan kehidupan.

Biasanya selepas melakukan suatu hal, muncul perasaan yang ingin diluapkan. Seperti membaca buku atau berdialog, setelahnya pasti akan menguakkan hasil.

Kebebasan berpendapat baik yang disampaikan secara langsung di ruang-ruang publik maupun melalui berbagai media, merupakan salah satu indikator penilaian terhadap kemajuan suatu peradaban. Bahkan dalam HAM setiap manusia diberikan hak untuk berpendapat.

Ketika menulis tak hanya tangan yang terlibat, namun juga mulut, pikiran, dan perasaan. Menuliskan setiap kata yang terucap, memikirkan setiap adegan untuk diingat, dan perasaan yang dirasa agar bisa tersampaikan kepada pembaca nantinya.


6.      Ada Tugas yang Harus Ditunaikan

Membaca dan menulis merupakan dua aktifitas yang tidak dapat terpisahkan. Jika menulis tanpa membaca pasti tulisan yang dihasilkan hanya seputar pengetahuan, pun begitu dengan membaca tanpa menulis yang hanya akan menjadi manfaat untuk diri pribadi.

Dengan sering menulis, seorang penulis dituntut untuk menghubungkan beragam pikiran satu dengan yang lainnya. Aktifitas ini akan selalu menambah daya pikir, kemampuan imajinasi dan kreatifitas, serta memori dan pengalaman.

Dan menyampaikan kebenaran merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim, jika memang mengetahuinya. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta'ala 'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat" (HR. Bukhari).

Seorang penulis yang sukses, tulisannya akan dibaca masyarakat banyak, diapresiasi, menjadi sumber inspirasi yang akhirnya menjadi sumber referensi dan rujukan masyarakat. Namun, kesuksessan yang sesungguhnya adalah ketika tulisan itu selesai dibuat. Bukan tulisan yang serta-merta tersimpan dalam memo dan dibuat tidak tuntas.


7.      Ada Pertemanan yang Mendukung

"There is no friend as loyal as a book."-Ernest Hemingway.

Ketika membaca buku atau menulis, seseorang pasti merasakan seolah-olah hatinya terpaut. Entah dengan isi bacaan ataupun yang dituliskan. Berusaha mencari dan menikmati rasa nyaman untuk pembaca atau dirinya sendiri.

Penulis memiliki tujuan masing-masing. Juga diberikan pilihan, ingin menuliskan sesuatu yang positif atau justru yang negatif.

Umumnya penulis senang menulis hal baru, mencari referensi, ataupun bekerjasama dengan penulis lain untuk menciptakan sesuatu yang positif.

Namun, serta-merta tak begitu. Karena yang terpenting bagi penulis adalah mampu memahami dan menyelesaikan tulisan yang dibuatnya.

Dan Alhazen, menjadi satu dari sekian alasan aku menulis.


8.      Ada Hati yang Ingin Bercerita

Dalam memberlangsungkan kehidupan pasti ada fase naik-turun yang tak jarang berhasil mengguncangkan hati. Terutama dalam menghadapi masalah kehidupan remaja, yang katanya nano-nano.

Apalagi manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Hati yang memang dilambangkan menggambarkan perasaan membutuhkan tempat untuk mencurahkan isinya setelah melalui proses di otak.

Meluapkan perasaan bisa dilakukan dalam beberapa cara. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Memilih segera bangkit atau justru berlarut dalam keterpurukan.

Sebagai penulis awam pasti menyadari bahwa menjadi penulis bukan suatu hal mudah. Ada mental yang harus disiapkan menghadapi kritikan, juga hati dalam mengendalikan emosi.

"Menulis itu dari hati, bukan hanya menuangkan diksi."-Safitri Andriyani.


9.      Ada Kenangan yang Harus Ditulis

Karya seorang penulis dipengaruhi berbagai hal. Mulai dari kenangan, peristiwa, dan lingkungan, juga bacaan yang kerap membuat penulis tumbuh beriringan dengan tulisan yang dibuatnya.

Manusia hidup dari kolektif kenangan yang berkaitan dengan nuluri yang diberikan oleh Allah Swt. Dari sana, kegiatan menulis pun terisi dan terdiri atas berbagai kenangan, peristiwa, lingkungan, dan apa yang dibaca.

Semakin ke sini penulis akan semakin tahu dengan tulisannya. Memahami dirinya, lebih mudah ketika hendak menyesuaikan dengan kebutuhannya.

Dalam keadaan tertentu menulis merupakan salah satu cara paling indah dalam mengenang. Tak hanya merasakan disatu waktu tapi, dapat dirasakan dilain waktu.


10.  Ada Bukti Nyata Kehidupan

"Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."-Pramoedya Ananta Toer.

Aku mungkin bisa membayangkan pikiran Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani, tapi tidak dengan pikiran keluarga yang sudah lebih dahulu wafat.

Mungkin kepribadian kita memang belum terbilang baik. Namun, dari menulis kita akan senantiasa belajar memperbaiki diri seiring dengan tulisan yang dibuat. Memperbanyak bacaan, dan tentunya amal jariyah. Yang terpenting, sebagai bukti bahwa kita pernah ada dimasa itu.

"Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu),"(HR. At-Tirmidzi)

 

Tentang Penulis:

Athirah Irbah Izzetya, gadis kelahiran kota Bandung pencinta kenangan. Menggeluti dunia kepenulisan sejak duduk di bangku 2 SD. Saat ini sedang dalam proses menggapai mimpi di SMAIT Insantama Bogor. Jejaknya bisa dilacak di akun Instagram; @athara._


Share:

16 comments :

  1. semangat! mudah-mudahan semakin bersemangat menulis

    ReplyDelete
  2. MasyaaAllah, semangat terus kaa♡

    ReplyDelete
  3. Keren bangettttt, mantappo jiwaaa!!

    ReplyDelete
  4. Kereen bgt.. semangat trs buat tuiisannya yaa kak rara..👍🙏

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah.. tukisan ya bagus 👍👍 inshaa Allah jd oenulis terkenal ya Mba.. semangat💪💪

    ReplyDelete
  6. Bismillah 🤲 smga tulisan nya dpt menginspirasi dan bermanfaat untuk umat ya mbak Athirah.. semangat 💪👍

    ReplyDelete
  7. Cemengud mbak nulis nya, terus berkarya dan berkarya utk yg terbaik.. barakallahu 🤲

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah.. Semangat terus ya athirah:)

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah.. Semangat terus ya athirah:)

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah.. Semangat terus ya athirah:)

    ReplyDelete
  11. Hai kak, semoga kita selalu semangat untuk terus berkarya💪🔥
    Jangan lupa mampir ke tulisanku yaa😍

    ReplyDelete
  12. Terbaik 👍👍, tulisannya begitu mengalir dan sangat bermakna. Ada kilas balik pengalaman dan nasihat dibalik sebuah tulisan. Terus berkarya & semangat menulis ya athira..

    ReplyDelete
  13. Semangat terus untuk menulisnya ya kak 💪😍

    ReplyDelete
  14. teruslah menulis Kak... karena dengan menggoreskan tinta, akan banyak kenangan yang bisa dikenang untuk suatu saat nanti diceritakan ulang...

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis