Tak Sadar Ada, Menulis.

Oleh : Chariyatunisa

 ๐Ÿ“

Dilupakan adalah hal yang mengecewakan bahkan menyakitkan bagi sebagian orang.

Melupakan menjadi hal fitrah setiap insan. memori sekelibat terlewat tanpa arah. Ya, Nyatanya kita hanya mengingat hal-hal tertentu yang membuat tertarik, sangat bahagia, kecewa dan sedih.

Sangat disayangkan, padahal kabarnya otak kita diciptakan Tuhan dengan milyaran saraf neuron. Memori internalnya entah tak terhitung limitnya, memiliki panjang pembuluh darah ratusan ribu kilometer. Masyaa Allah, sebegitu baiknya Allah menciptakan dan menganugerahkan otak kepada kita seluruh manusia.

Tapi memori dengan mudah silih berganti. Bukan, bukan penyebab Sang Pencipta otak itu. Tapi tergantung dengan seberapa banyak stimulus atau ransangan dari luar yang membuat memori-memori itu teringat kembali. Dan salah satu usaha yang dapat dilakukan agar memori itu dapat teringat kembali adalah dengan menulis.

Bersyukur bukan hanya tentang mengucapkan kalimat pujian, berterimakasih dan bersujud syukur dihadapanNya. Sebenarnya makna syukur lebih luas dari itu, Orang yang bersyukur takkan membandingkan nikmat, merasa cukup dan menerima apa yang telah diberikan, orang yang senantiasa bersyukur akan terus menggunakan nikmat yang telah diberikan untuk ketaatan dan kebermanfaatan.

Tanpa disadari banyak sekali nikmat yang Allah berikan. Akal untuk berfikir, badan yang sehat, lingkungan yang baik, teman-teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan masih sangat banyak lagi yang tak mampu kutulis semua disini. Itulah mengapa aku mulai menulis, sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan padaNya. menggunakan pemikiran, mencari banyak referensi dari berbagai media dan mulai menuliskannya. Khususnya sebagai pengingat diri dan umumnya untuk orang lain.

Sebuah tulisan, secara tidak langsung sedikit maupun banyak dapat mempengaruhi pola pikir pembacanya.  penggunaan kata dalam sebuah tulisan dapat mengandung makna positif maupun negatif tergantung pada penulisnya. Dalam sebuah hadits disampaikan bahwa "perkataan yang baik adalah sedekah". Aku meyakininya, bahwa setiap tulisan baik adalah bagian dari sedekah pula.

Mencoba hobi baru adalah hal yang sering terjadi dalam hidupku. Selama tidak menyalahi syari'at dan masih aman di pendapatanku, biasanya aku akan melakukannya. Sebagai penghibur diri dari segala rutinitas harian dan menghilangkan kejenuhan yang terkadang masih mudah bosan. Tak hanya itu, poin tambahannya aku juga bisa menambah pengalaman  dan kecakapan hidup yang baru.

menulis juga ikut mengambil peran, menjadi bagian dari salah satu hobi yang membantu menghilangkan kejenuhan.

_Puing tak berwujud_

Salah satu karakteristik seorang anak adalah peniru, Ia akan meniru perilaku orang-orang disekitarnya. dimulai dari cara berbicara, berjalan, marah, sedih dan kebiasaan yang lainnya. terutama ayah dan ibunya. Kedua orang yang ditakdirkan Tuhan saling bersama dan menurunkan sifat genetik pada anaknya.

Begitu pula denganku, aku juga seorang peniru ulung. Sejak usia SD, kedua orang tuaku harus berpisah. Seketika dunia terasa berubah, semua terasa jauh lebih hambar dari biasanya. Tak ada lagi tawa lepas, tak ada lagi cerita-cerita lama dan sosok pria yang bersedia menggenggam tanganku saat berjalan tanpa melepas. Seketika, yang ada hanya pertanyaan "Kenapa ayah dan ibu berpisah?". mungkin saat itu, aku masih terlalu dini untuk belajar memahami, sampai pada akhirnya harus merasa paham sendiri ditemani waktu.

Meskipun kedua orang tuaku tak sempurna, aku bersyukur. Secara tidak langsung mereka mengajarkan bagaimana aku harus bertahan menghadapi hidup dan menikmati waktu. Mereka menyerahkan hidupku pada Allah, menjadikan aku berada dalam labirin besar agar mampu mencari jalan keluar sendiri.

Aku tahu ini juga sulit bagi mereka, terutama ibu. Karena aku tinggal bersama beliau, aku melihat bagaimana perubahan sikap beliau secara langsung. Sejak mereka berpisah ibu lebih intens menangis dan menulis curahan hatinya didalam sebuah buku. Mungkin dunianya juga sama sepertiku, runtuh, tak bersisa. Tapi hidup harus tetap berjalan, ada aku dan adikku yang masih sangat membutuhkannya berdiri dan tersenyum menghadapi hari. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk berbohong, berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja.

Tak ingat secara detail apa yang kupikirkan kala itu, yang kutahu aku sering iseng malah mengganggu ummi kalau lagi nangis atau menulis. Entah itu memeluknya dari belakang, tiba-tiba minta uang jajan atau pura-pura mengagetkan. Yang jelas kuingat waktu itu, aku terlalu takut untuk bertanya lagi kenapa ibu menangis?. Pernah suatu hari aku berani menanyakan hal ini pada ibu, saat beberapa hari aku harus pindah ke rumah amih. Ibu marah padaku,  sangat marah. Pada saat itu aku belum tahu soal momen, waktu aku menanyakan pertanyaan itu sangat tidak tepat. Dan sejak saat itu aku berbohong pada diriku sendiri, tak ingin membuatnya malah semakin menangis dan marah.

Kusadari dimulai saat itu juga aku jadi mulai suka menulis, menulis membuatku lebih bersyukur. Bahwa akan selalu ada doa orang tua hebat, dibalik semua kebaikan yang aku lakukan dalam hidup. Seberusaha mungkin tak membuat mereka kecewa dengan kesalahanku, harus membohongi diri melawan emosi diri  dan hawa nafsu. Menjadi alasan bahwa puing tak berwujud bukan berarti tak berguna, ia hanya butuh tangan-tangan orang terampil.

Setiap yang bernyawa pasti mati. ruh akan terpisah dari raga, diam lemas tak berdaya, menunggu raga lain membantu proses dikebumikan dan pasrah tanpa perlawanan.

Bawa apa aku kesana? Begitu pikirku. Melihat kematian terjadi dihadapan. Logikaku berputar, bertanya akan diri apa aku siap berada disana. Bagaimana denganku? Apa yang sudah kulakukan untuk kebermanfaatan?

Hatiku seketika pilu

menyesali diri

menangis pun seperti tak menjadi

rasanya aku terlalu keras memikirkan bagaimana nanti.

Otakku berisik

Apakah yang kulakukan sudah benar?

Apakah amalku diterima?

Apa,,, apa,, dan apa,,,

Do'a dan dzikir tak henti ribut didalam hati dan fikiran

Begitulah aku sadar benar akan kematian, saat bapak dikebumikan.

Sebelumnya bagiku kematian ya hanya kematian. Takdir pasti yang memang akan terjadi.

Mengakhiri dunia menuju alam kubur. Begitu pikirku saat belum merasakan bagaimana mengahadap kematian orang terdekat secara langsung.

Sampai suatu hari, aku dipaksa terbangun dari tidur lelapku, kabar datang mengganggu mimpiku. Padahal hanya  dua kata yang disampaikan "bapak meninggal". Namun berhasil membuat duniaku runtuh untuk kedua kalinya, aku menangis sejadinya memeluk ummi bercampur dengan rasa kantuk. Masih berharap kabar ini hanya mimpi, padahal pipiku sudah sangat basah, pelukku sangat erat bahkan hampir seperti mencengkram dan berteriak.

Refleks langsung bertanya "terus teteh harus gimana sekarang?" ya, begitulah aku seperti mati rasa.

Sepertinya aku mulai terbiasa akan dunia yang runtuh. orang bilang ini ujian, beberapa bilang Allah sayang. Aku meyakini diri, istighfar dan mencoba menenangkan otak yang berisik dan hatiku yang tak tenang. Meski sulit.

Harus kuhadapi, aku bisa, aku kuat. Kata-kata positif berusaha kuucapkan dalam hati dan pikiran.

Meskipun nyatanya aku tak sekuat itu, aku hanya berbohong pada dunia. Berpura-pura menjadi wanita kuat, berusaha tetap berdiri meski terpincang-pincang.

Benar saja yang bapak bilang. Cinta sejati akan terbawa sampai mati. Ya, pertama kali dengar kubilang bullshit. sampai nyatanya beliau membuktikannya. Aku hanya berharap bapak lebih sholih menurut Allah, agar cintanya bisa bersatu kembali hidup di alam selanjutnya.

Seseorang yang meninggal akan dikenang karena apa yang ia tinggalkan. Saat bapak meninggalkan keyakinan yang tak mungkin pada awalnya, tapi berhasil dibuktikan. Aku pun ingin melakukan hal yang sama. Menuliskan hal yang tak mungkin terjadi  lalu membuktikannya.

Biidznillah

๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™

Tentang penulis :

Hanya wanita biasa yang tak sadar bahwa selama hidup sudah ditemani dengan tulisan. Tak sadar selalu menguntaikan do'a dalam tulisan, hingga perlahan menjadi kenyataan. Seorang pemimpi, yang selalu bersemangat dalam hal yang ia sukai, senang mencoba hal baru dan pengambil keputusan yang singkat. Salam kenal, aku chariyatunisa.

Share:

20 comments :

  1. Like this, spirit write do more

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jazakillah Khoir kak ela๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š. All the best pray you too. Aamiin ๐Ÿคฒ๐Ÿผ

      Delete
  2. Replies
    1. Terimakasih orang Depok๐Ÿ˜. Anda juga keren๐Ÿ‘๐Ÿ‘

      Delete
  3. MaasyaAllah๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿฅฐ๐Ÿค—

    ReplyDelete
  4. MasyAllah.. selalu terkesan dengan karya-karyanya.. uwuuuuu cabatkuuuu yg satu iniii๐Ÿค—๐Ÿฅฐ sukses terus rossiku.. Semangattttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Biidznillah me too sahabat sekamarku๐Ÿฅฐ. Sukses dan sehat selalu juga yaa bumillku๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜

      Delete
  5. Terharu sdh baca serasa ngalamin hehehe

    ReplyDelete
  6. Terharu sdh baca serasa ngalamin hehehe

    ReplyDelete
  7. Keren ๐Ÿ˜™๐Ÿ‘
    Terus lanjutkan ya. Semangat... bacanya terharu๐Ÿ˜ข

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis