Limadza Aktubu?


Oleh: Ukrowiyah

"Dengan membaca, kau bisa belajar. Dengan membaca, ilmu akan datang kepadamu seiring waktu."



Terdapat sebuah ungkapan, "Seorang penulis harus suka membaca." Benar. Gemar membaca merupakan syarat mutlak bagi seorang penulis.

Beberapa tahun lalu, ketika masih berumur enam tahun, untuk pertama kalinya saya dikenalkan dengan buku cerita. Buku pertama yang saya baca berjudul 'Kancil dan Pak Tani'. Saya membaca cerita itu berulang-ulang sehingga ketika memasuki Sekolah Dasar, saya sudah mahir membaca meskipun tidak bersekolah di Taman Kanak-Kanak sebelumnya.

Ketika sudah memasuki sekolah dasar, saya mengetahui ternyata ada banyak buku di rumah. Buku-buku itulah yang menjadi bacaan saya selanjutnya. Sebab yang saya tahu, satu buku tidak akan cukup bagi seseorang untuk mendapatkan banyak ilmu.

Berawal dari kisah Kancil dan Pak Tani, saya membaca banyak buku cerita yang membuat saya memikirkan satu hal, "Bagaimana caranya agar bisa menulis cerita menarik seperti mereka?"

Pemikiran itulah yang kemudian mendorong semangat saya untuk belajar lebih banyak, terlebih pada pelajaran Bahasa Indonesia. Karena saya menemukan, di pelajaran itulah, seseorang diajari untuk membuat suatu karya tulis.

***


"Rangkaian diksi indah yang bersatu dalam buku-buku. Nyatanya, kini aku mulai merasa candu 'tuk menuliskanmu."


Beberapa tahun berlalu, akhirnya pelajaran Bahasa Indonesia membahas materi puisi. Jika tidak salah mengingat, saat itu saya masih berada di bangku kelas tiga.

Seringnya mempelajari dan membaca puisi yang ada dalam buku pelajaran membuat saya perlahan tertarik untuk menulis puisi. Terlepas dari tugas yang diberikan oleh guru, saya dan seorang teman mulai sering bertukar puisi. Walau kadang puisi-puisi itu hanya rangkaian kata tanpa makna. Bahkan tak jarang, kami menjadikan julukan tetangga sebagai sumber ide puisi kami.

Tak pernah saya kira, berawal dari itu, saya menjadi ketagihan untuk menulis puisi-puisi lainnya. Hingga kemudian saya mengenal satu media sosial yang sedang populer di masa-masa tersebut. Yaitu, Facebook.

Facebook menjadi media sosial yang pertama saya kenal ketika masih di Sekolah Dasar, dari kakak kelas di sekolah.

Di Facebook, saya menemukan banyak hal. Mulai dari bacaan, teman-teman penulis, komunitas penulis, hingga ke website kepenulisan yang memublikasikan karya-karya penulis dari berbagai penjuru.

Berawal dari Facebook pula, kemudian beberapa karya saya tampil di beberapa website kepenulisan dan mungkin masih ada sampai sekarang. Namun, kisah itu hanyalah awal keterlibatan saya dalam dunia kepenulisan.

Ketika menulis menjadi sesuatu yang saya sukai, saya memutuskan untuk mempertahankannya dan menjadikan tulisan sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan. 

Melalui puisi-puisi yang saya tulis, berbagai perasaan terungkapkan. Kata yang tergerak menjadi baris-baris sajak, kemudian saya publikasikan di website dan aplikasi kepenulisan, seperti Wattpad. Sebagian saya bagikan di grup kepenulisan Facebook untuk keperluan event.

Puisi-puisi itu lalu saya kumpulkan dalam satu file dan terkumpul hingga seratus puisi yang saya tulis sejak kelas enam Sekolah Dasar sampai kelas delapan di Madrasah Tsanawiyah. Sebenarnya masih banyak puisi yang tercecer, tetapi karena keterbatasan sumber dan waktu, semua itu saya biarkan menghilang.

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, puisi menjadi alat bagi saya untuk mengungkapkan perasaan. Mengapa demikian? Sejujurnya, saya termasuk orang yang sulit untuk berbicara langsung dengan orang lain mengenai perasaan saya, dan dalam berkomunikasi, saya merasa jauh lebih nyaman menggunakan tulisan daripada bicara secara langsung. 

Melalui tulisan, saya bisa bebas mengatakan apapun yang saya rasakan, bahkan suatu pembicaraan yang bisa membuat suasana canggung apabila dilakukan secara langsung, saya bisa menyampaikannya dengan mudah melalui tulisan.

Melalui tulisan, saya merasa bisa mengungkapkan segalanya dengan baik, bahkan sesuatu yang amat sulit saya katakan dan sangat rahasia.

"Sebab menulis membebaskanku untuk mengungkap dan berbagi rasa."

***


"Menguji kemampuanmu merupakan suatu kebaikan. Namun, bisa pula berbuah kepahitan jika kau tak selalu berhati-hati dan teliti dalam bertindak."


Bulan Ramadan 2015 adalah kali pertama saya mengikuti event kepenulisan yang diadakan oleh komunitas menulis Sastra Online Indonesia, di Facebook.

Event tersebut adalah event menulis antologi puisi dengan tema Ramadan, di mana karya penulis terpilih akan dibukukan. Saya yang masih sangat baru dengan dunia kepenulisan, mencoba mengikuti event itu.

Hasilnya? Karya saya tercantum dalam puisi terpilih dan dibukukan bersama karya-karya penulis terpilih. Karena untuk pertama kalinya, saya benar-benar terkejut. Tetapi yang saya tahu, semua tetap tak lepas dari kehendak-Nya yang sepatutnya saya syukuri.

Setelah berhasil menjadi penulis terpilih di event kepenulisan pertama kalinya, saya mencoba mengikuti event-event lain yang diselenggarakan secara online oleh penerbit-penerbit indie.

Salah satu dari event menulis ketika itu adalah event menulis puisi dan cerpen bertema Luka. Saya ikut di bidang puisi. Ketika pemenang diumumkan, saya senang bukan main karena tertulis bahwa karya saya menjadi juara satu.

Tetapi sepertinya, saya belum beruntung. Karena ternyata, penyelenggara event itu adalah penipu. Beruntungnya, penipuan itu berhasil diungkap oleh teman-teman di grup literasi sebelum memakan lebih banyak korban, meskipun tetap banyak pihak yang dirugikan ketika itu.

Akan tetapi, kejadian itu berdampak cukup buruk pada diri saya sendiri. Maraknya penipuan oleh penerbit abal-abal membuat saya sedikit down dan berpikir untuk berhenti menulis.
Setelah kejadian itu, saya menjadi sangat berhati-hati dalam mengikuti event-event kepenulisan. Sebisa mungkin menghindari penerbit baru yang belum tentu terpercaya.

Namun, pada akhirnya, saya memang harus berhenti menulis selama beberapa tahun. Alasannya, tentu bukan karena penipuan. Tetapi karena saya harus tinggal asrama sekolah yang melarang penggunaan gadget, kecuali di hari libur.

Hampir dua tahun saya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di sekolah dan asrama sehingga harus berhenti berkarya, walau sesekali ketika libur, saya tetap mengusahakan menulis.

***


"Menulislah. Sebab dengan menulis, kau akan menggenggam dunia bersama keabadian karyamu."

Kemudian inilah akhirnya. Setelah beberapa tahun perjalanan dan sempat terjauhkan dari dunia kepenulisan, saya memutuskan untuk kembali. Mengapa?

Sebab dengan menulis, saya merasakan kebebasan.
Sebab dengan menulis, saya bisa belajar dan mengajarkan.
Sebab dengan menulis, saya bisa berbagi.
Sebab dengan menulis, saya merasakan kehidupan.
Sebab dengan menulis, seolah takdir dalam genggaman.

Pegang erat penamu! Menarilah bersamanya.
Ikatlah ilmu dengan goresan sang pena agar ia tetap terjaga.

Menulislah, maka karyamu akan tetap abadi, meski ragamu telah mati.

Kediri, 07 Agustus 2020


Catatan:
Limadza Aktubu? (dalam Bahasa Arab: لماذا اكتب؟) memiliki arti 'Mengapa Saya Menulis?'



Tentang Penulis:
Penulis yang terlahir 17 tahun silam ini bernama Ukrowiyah. Ia berasal dari Kota Kediri dan sedang menempuh pendidikan tingkat menengah atas di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Kediri. Ia bisa disapa melalui akun Instagramnya @_kata.kitaaa atau akun @ukhro_wyh1109.
Share:

23 comments :

  1. Barakallah, kak 😍
    Semangat teruss

    ReplyDelete
  2. Barakallah, kak 😍
    Semangat teruss

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Makasih udah mampir, Kak.😍
      Karya kakak juga keren.👍

      Delete
  4. Semangat kakak untuk berkarya

    ReplyDelete
  5. Semangattt dek menulisnya :) eh jangan kapok ikutan event yaaa hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, Kak Rena. Insya Allah, gak kapok asal bukan yang tipu-tipu. 😁
      Btw, makasih udah mampir. 😍

      Delete
  6. Semangat, terus berkarya Kak😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, sudah bersedia meluangkan waktu sejenak untuk mampir di karyaku.😍

      Delete
  7. Hai kak, semoga kita selalu semangat untuk terus berkarya💪🔥
    Jangan lupa mampir ke tulisanku yaa😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, sudah bersedia meluangkan waktu untuk mampir di karyaku.

      Semangat berkarya juga, Kak Nurul. 😍

      Delete
  8. Maa syaa Allah🥰 keren banget! semangat terus ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, sudah meluangkan waktu mampir di karyaku. 😍

      Semangat berkarya, Kak. 😄

      Delete
  9. MasyaAllah keren, dari kediri pula 🥰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, saya asli orang Kediri. 😀

      Terimakasih, sudah meluangkan waktu mampir di karya saya. Jika berkenan, mohon bantuannya share ke teman-teman Kakak juga, yaa. 😄

      Delete
  10. Masyaallah... Ganbatte kawan;)

    ReplyDelete
  11. Wahh, barakallah bu🥰... Cemungutt

    ReplyDelete
  12. Wah masih muda pengalaman menulisnya hebat. Bagus karyanya. Yg salah .... tinggal (di) asrama sekolah....
    Ada ya tipu2 gitu... kudu hati2 ternyata. Tandanya gmn itu ya?


    http://artikel.ruangnulis.net/2020/08/menulis-sejarah-di-catatan-perjalananku.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, teliti sekali, Kak Yuli. Makasih, udah mampir dan mengoreksi karyaku.

      Untuk tanda-tanda penipuan itu, ya, yg paling terlihat, penyelenggaranya sulit dihubungi, penerbitnya baru, owner siapa, kantor ada di mana, semua gak jelas.
      Begitu muncul tahu-tahu adain event dengan skala besar (hadiah biasanya juga wow sehingga banyak penulis pemula yang tergoda), tapi begitu event selesai, karya penulis terkumpul, dia menghilang tanpa jejak.

      Itu kalau dari pengalamanku pribadi.

      Delete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis