KEKUATAN NIAT


Oleh: Nur Liebe



Foto : Pinterest


         Menulis merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan buat aku. Bermula dari hobi membaca berbagai jenis buku membuatku semakin hari tertarik untuk memiliki sebuah tulisan. Aku pun mulai menuliskan beberapa cerita kehidupan sehari-hari melalui buku harian yang terinspirasi saat belajar Bahasa Indonesia saat SMP dulu. Sejak saat itu, aku benar-benar berharap untuk memiliki tulisan yang diterbitkan. Namun, konsisten menulis bukan hal yang mudah, bahkan hingga selesai kuliah dan bekerja tulisan itu pun masih menjadi konsumsi pribadi. Aku bersyukur saat ini dorongan dan motivasi itu mulai tumbuh kembali.  Kutuliskan 10 alasan mengapa aku harus menulis sebagai bentuk penjagaan niat dan semangat, yakni sebagai berikut.


         1.   Mengikat Ilmu

Aku menulis karena berharap ilmu yang telah kumiliki sampai hari ini selalu melekat dan tidak hilang begitu saja. Ilmu itu jika tidak dituliskan akan mudah lupa dan akhirnya hilang. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ikatlah ilmu dengan tulisan" (HR. Ibnu 'Abdil Barr).

Aku tidak ditakdirkan seperti Imam Bukhari yang telah menghafal dan meriwayatkan banyak hadits dan juga tidak seperti Imam Syafi'i yang hafalan dan ingatannya begitu kuat meski tidak dituliskan. Terkadang malas belajar dan dosa-dosa membuat ilmu lenyap sedikit demi sedikit. Oleh sebab itu, aku harus menulis meski ilmu yang dimiliki sangat sedikit.

2.   Menebarkan Kebaikan

Aku menulis untuk menebar kebaikan yang berasal dari berbagai sumber, baik buku maupun pengalaman. Semampunya untuk memberi manfaat untuk orang lain. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia" (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Aku telah banyak mendapat ilmu dari tulisan orang lain, maka aku juga ingin membagi ilmu melalui tulisan.


3.   Mengharapkan Amal Jariyah

Kelak, saat tiba waktunya ruh akan kembali pada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala tak memilih apakah ia orang yang beriman atau tidak, apakah ia seorang ahli ibadah atau pendosa. Semuanya akan ada masanya untuk kembali. Kemudian, segala amalan di dunia akan dihisab-Nya. Akankah meraih ridho atau murka-Nya. Saat itu, tidak ada penolong selain amalan sholeh saat di dunia dan amal jariyah.

Tentunya, aku berharap memiliki amal jariyah yang terus mengalir. Tulisan yang penuh kebaikan adalah salah satunya sebagai bagian perwujudan ilmu. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do'a anak sholeh" (HR. Muslim).


4.   Mengabadikan Pengalaman dan Mengambil Hikmah

Setiap hari aku merasa selalu memiliki pengalaman yang berbeda, meskipun dengan aktivitas yang sama. Semua itu terjadi karena adanya akal yang dianugerahkan kepada kita, manusia. Jika kita ingin berpikir di luar kebanyakan manusia, maka akan menjadikan diri kita semakin memahami arti kehidupan yang sebenarnya. Pengalaman apapun yang telah dilalui pahit, manis, atau masam akan menjadi bumbu dapur kehidupan yang sempurna dan bila diramu dalam panci kebijaksanaan akan menjadi santapan kehidupan yang lezat. Aku menuliskan setiap pengalaman itu, untuk menjadi pelajaran bagiku di setiap waktunya. Sebagai pengingat saat lalai dan penguat saat ingat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah[2] ayat 269, "Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat".


5.   Mencurahkan Pikiran dan  Perasaan

Ujian adalah ketetapan, sejauh manapun pergi dan sembunyi untuk menghindar, ia tetap menemukan tempatnya. Ingin menilai siapa yang lulus untuk masa berikutnya. Ialah pikiran dengan segala bentuknya, juga perasaan dengan segala rasanya. Positif atau negatif. Membuat bahagia ataukah sedih. Terdapat kebebasan untuk lampiaskan dalam tulisan agar jadi renungan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" QS. Al-Baqarah[2] ayat 216.


6.   Mengembangkan Hobi dan Potensi

Bagiku membaca sebuah buku adalah kebahagiaan. Banyak pengetahuan baru yang bisa diperoleh. Akhirnya ia menjadi hobi. Lambat laun kukembangkan ia dengan menuliskan ilmu dari bacaan tersebut. Aku berharap setiap potensi dan kesempatan yang Allah berikan kepadaku bisa kumaksimalkan. Setiap potensi harus disyukuri dan dikembangkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" QS. At-Tin[95] ayat 4.


7.   Menjadi Generasi Penulis Muslim

Para Nabi mewariskan ilmu untuk dipelajari sebagai petunjuk hidup di dunia dan akhirat. Maka, aku ingin mengambil sebanyak-banyaknya. Belajar untuk menjadi generasi penerus. Terus berproses sampai habis waktuku. Tak jemu dan terus memohon keistiqomahan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).


8.   Memperluas Wawasan

Banyak cara untuk memperluas wawasan, salah satunya dengan menulis. Menulis akan membuat kita lebih semangat untuk mempelajari banyak hal. Mulai dari hal remeh temeh hingga hal terpenting dalam kehidupan kita. Berbagai bidang keilmuan harus dipelajari agar lebih kaya, lebih peka, dan lebih bermanfaat. Menemukan wawasan baru juga bisa dengan cara menjelajahi negeri ini : menikmati alam dan menambah ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan" QS. Al-Mulk[67] ayat 15.


9.   Menginspirasi Diri Sendiri dan Orang Lain

Kesibukan yang bertubi-tubi akan menjadi tantangan. Kebijaksaan dan kemampuan untuk mengatur semua hal dalam satu waktu sangat penting. Namun, tak semua orang bisa melakukannya. Akan ada  down, menyerah pada keadaan. Saat itu, kita butuh penyemangat, sesuatu yang mampu kembalikan gairah. Kembali fokus pada satu ranah. Membaca buku motivator atau menulis keluhan akan berakhir dengan solusi, menemukan inspirasi baru. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman" QS. Ali 'Imran [3] ayat 139.


10.  Memperkaya Kreativitas dan Inovasi

Semua yang bernama ciptaan pasti tercipta dengan banyak kelebihan. Benda hidup dan benda mati saling bermanfaat satu sama lain, simbiosis mutualisme. Oleh sebab itu, wajiblah kita untuk memikirkan dan memanfaatkan kelebihan itu. Menjadi lebih kreatif dan inovatif. Jangan sia-siakan waktu yang tersisa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "... Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan" QS. Al-Baqarah[2] ayat 219.

Itulah 10 alasan yang kutuliskan sebagai penguat dan pengingat. Aku berharap alasan-alasan tersebut akan menjadikan niatku akan semakin kuat, motivasi semakin besar, dan semangat semakin membara sepanjang proses menulis sampai kapanpun.

Makassar, 07 Agustus 2020

 


Tentang Penulis:

Nur Liebe, lahir pada tanggal 25 Juli 1995. Saat ini aktivitasnya adalah mengajar di sebuah sekolah swasta di Makassar sambil terus belajar menulis. Kalian bisa menyapanya di akun instagram @nurulmukhlisyah dan melihat karyanya di @nur7liebe.

Share:

Post a Comment

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis