Karena Dia, Imajinasi Terasah


Oleh : Rina Rukmana

Awalnya sih pengarahan di pagi hari. Antara ia dan aku. Ia tak turun tangan mengangkat pedang. Tapi bisa terkenang. Karena negara sudah tenang sekarang. Aku tak punya alasan untuk tidak dikenang. Aku menulis, maka kenang lah aku.
 
Bosan adalah sifatnya manusia, mungkin orang terdekat ku bosan mendengar cerita aktivitasku dengan mereka. Mereka lucu, aku ceritakan. Mereka kesal,aku ceritakan. Mereka baik, aku ceritakan. Mereka orang orang baik dan angin pagi menghantarku kepada mereka, jumpa mereka, bercengkrama dengan mereka. Dan kamu pun bosan mendengarku. Lalu, kepada siapa lagi kuceritakan. Kalo bukan dengan menulis.

Waktu awal pertama ditawari nulis di iming-imingi sertifikat yang bakal berpengaruh sama jenjang pendidikan selanjut nya. Hingga event lalu dalam masa pre order buku. Namun, itu hanya menjadi motivasi panggilan jiwa. Sertifikat hanya bonus bukti kenangan. Yang harus diceritakan ke masa depan. Karena sertifikat, awal mula ku bersahabat dengan pena. Dan ku pun mencoba menulis. Dengan segala angan dan ditemani angin

Aku suka ketenangan, hening, kalem walau aku pun hiperaktif, tapi sewaktu langkah kaki melamban aku terduduk dengan pena dan mengikuti arah kemana ia ingin berjalan huruf atau angka yang ingin ditorehkan nya. Aku ingin menulis, karena ingin tenang tanpa usikan.

Imajinasi sebagai penghibur. Sudah tak asing lagi bagiku sebagai pecandu dan penggila imajinasi. Siapa yang tak mendapat kebebasan dalam berimajinasi. Tentu tak ada, semua berhak atas imajinasi nya masing-masing. Ada yang diceritakan, dilagukan, dan banyak lagi ekspresi imajinasi. Tapi bagiku dengan menulis aku bisa dengan bebas berimajinasi dan kuakui itu sangat menghibur. Selain teman karib terkadang kita butuh imajinasi untuk membahagiakan diri sesuai kapasitas keinginan. Aku menulis karena suka berimajinasi dan itu sangat menghibur

Alasan Aku Menulis? Ya, aku tipe orang yang suka bercerita dengan kertas dikala sohib bosan dan muak dengan semua bacotanku, aku lebih memilih menceritakannya pada kertas dan menulis. Aku tak ingin diperdulikan, didengarkan sudah lebih cukup. Dan kertas mengerti aku. Pena pun begitu tak pernah hilang dari genggaman. Semua kan kuceritakan pada buku terdekat ku. Itulah mengapa aku menulis.

Tiap orang pernah merasa kesal, kecewa, marah, nangis, tertawa, hancur lebur oleh dunia hingga kufur. Ada yang lebih nemilih bercerita. Ada yang lebih memilih diam dan menyendiri. Ada yang lebih memilih menghibur diri dengan berbelanja dan travelling. Ada yang lebih memilih makan makanan favoritnya. Ada yang lebih memilih menyudutkan diri dan menulis semua rasa yang ada dan menjadikan nya catatan pacuan untuk kedepan nya. Itulah aku, aku yang tak tau sejak kapan menjadi akrab dengan pena dan kertas. Aku yang lebih memilih menulis karena dengan segala kebebasan bisa mengungkapkan rasa.

Dalam buku yang kucoretkan tinta tinta hitam banyak harapan yang kuharap berhasilkan putih cemerlang dan ceria. Berharap yang kuceritakan membaca. Berharap yang kudoakan datang. Berharap yang kusebut selalu namanya pun begitu dgn nama ku. Berharap bisa menceritakan silaunya mentari pada pagi itu. Berharap bisa menceritakan redup dan heningnya malam tanpa mu. Berharap kamu baca, maka aku tuliskan.

Simpanlah kenanganmu dalam tulisan baik kenangan manis atau pun pahit kelak itu akan menjadi bacaan dan pacuan kamu agar menghadapi hidup yang lebih manis semanis yang baca caption ini dan yang menulis nya. Buku tersebut adalah kenangan terbaik tentang ia yang ingin kugapai tapi ku lupa dia sudah terbang dan aku masih belajar beranjak tapi sudah berlalu biarlah kusimpan rapat dalam manisnya buku ini.

Bismillah...huhh ya aku sudah menarik nafasku dan menghembuskannya pelan. Aku sudah memulai tema ini dengan baik. Aku juga harus mengakhiri nya dengan baik. Banyak pro kontra dalam diri sendiri. Antara lanjutkan dan sudah biarkan. Maka aku memilih lanjut untuk mengakhiri tema ini. Aku terperosok dalam luka yang tercipta sudah. Tak tau karena apa, dia atau aku yang berlebihan. Aku terduduk dengan sekujur badan yang kaku dan kedinginan. Tapi pikiranku tetap berjalan memikirkan cara bagaimana aku bangkit. Berusaha meraih pena dan menceritakan semuanya pada kertas. Sedikit bermain air tapi takkan kubiarkan kertas itu basah juga seperti aku yang terendam air hujan karena ku. Lama kelamaan aku menjadi sering menggenggam pena dan bercerita dengannya seolah ia mengerti apa yang kurasa tanpa berkomentar.

Medan, 7 Agustus 2020

Tentang penulis : Rina Rukmana ya nama lengkap seorang anak perempuan kelahiran medan yang baru mengenal dunia penulisan oktober kemarin, karena adanya peristiwa jatuh dalam kehidupan lalu mengabadikan nya dalam tulisan hingga kini dan tercantum dalam salah satu buku antalogi puisi okelah terimakasih haha.
Share:

14 comments :

  1. Good bnget tulisannya💙
    Gasemua hal dapat kita ungkap lewat lisan,
    Tpi mungkin dapat kita wakilkan dengan tulisan.
    Semangat menulissss📝📚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manusia bisa bosan tapi pena tidak pernah muak dengan pemiliknya😂😂
      Maaciw calon qaqa ipar🤗💚

      Delete
  2. Bagus bngt cerita a ☺️..smoga cerita a bisa menginspirasi bnyk org ya 😌

    ReplyDelete
  3. Bagus ceritanya rin👍
    Dari dlu aku pengen menulis tpi masih sukak bingung untuk merangkai kata² nya😔

    Alhamdulillah bisa di jadikan motivasi nih😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Timakacii tem🤗🤗
      Kuyy collab dan saling perbaiki kata😊
      Alhamdulillah semoga semakin bermanfaat utk kamu dan yg lainnya🤗

      Delete
  4. Tetap semangat menulis ya kk,love u😍😍😍

    ReplyDelete
  5. Tetap semangat menulis ya kk,love u😍😍😍

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis