KARANGKU

Karya : Suhesti Marjanah

Terkadang mengangkat tangan kanan di dalam rapat kemudian menyampaikan pendapat dihadapan orang-orang yang jauh lebih pandai berbicara membuat kita hanya diam dan pasrah menjadi anggota pasif. 
Pikiran tentang pendapat yang kita sampaikan pasti ditolak dan akan banyak sanggahan menjadi momok yang akhirnya kita harus menerima hasil rapat dengan lapang dada.
Oleh karena itu menulis adalah salah satu cara berbicara yang tidak akan menolak semua ocehan kita. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar aku menulis.

Pertama. Menulis adalah caraku untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa aku katakan. Dengan menulis dapat membuat perasaan yang tadinya berat bagai beban menjadi lega dan plong. 
Aku sadar terlalu banyak berbicara tidak baik, walaupun termasuk cara manjur untuk mengutarakan maksud hati dan pikiran. Memang benar hanya menulis, namun menulis bukanlah hal yang mudah, jika tidak percaya buktikan saja. 
Pun menulis bukanlah hal yang terlalu sulit, lakukan saja. Menulislah segala hal yang ingin dituliskan, jangan ragu-ragu karena keraguan adalah salah satu godaan syaiton. 
Jika tidak ada yang membaca tulisanku aku tidak peduli, yang penting aku puas, toh merekapun hanya bisa berkomentar.

Kedua. Menulis adalah sang pelipur lara. Lagi-lagi aku tidak dapat berkata dan hanya bisa menulis. Aku marah namun diam yang ku lakukan. 
Aku menulis di lembar putih dengan tinta hitam yang mengalir mewakili rasa yang terpendam. Coretan-coretan yang hanya dimengerti oleh diriku. Aku dapat menumpahkan seluruh air yang terdapat di dalam gelas tanpa takut ada yang memarahi. Terkadang teringat akan hal yang terjadi membuat aku menangis.
Sempat berfikir dan merenung. Selemah inikah diriku? sehingga aku merasa dunia ini begitu sempit. Tulisanku selesai, namun tidak ada niat untuk membacanya kembali. Perasaanku jauh lebih tenang. Aku kecanduan menulis dan kini menulis adalah hobiku.

Ketiga. Menulis adalah soal cita dan cinta.
Harapan akan selalu ada. Dibarengi usaha dan doa semoga yang diharapkan dapat terwujud. Kita semua pasti memiliki harapan untuk hari esok yang akan datang.
Soal cita-cita yang ingin digapai, ada banyak cara untuk menyulut api semangat agar terus membara. Dengan menulis sang cita dan ditempel di tempat yang sering kita tengok misalnya. Secara tidak langsung akan memberi positif thinking dan opitimis.
Masalah cinta, bukan melulu cinta pada seseorang melainkan mencintai segala yang kita miliki. Menuliskan cinta yang hidup akan membuka kebahagiaan. Terdengar sepele namun tidak jarang kurang bersyukur merubah rasa cinta yang hadir. 

Keempat. Masih menulis, kali ini tentang mengabadikan jati diri.
Banyak yang mungkin belum paham dan mengenal apa itu jati diri. Beberapa terbantu dengan membaca tulisan tentang kisah menemukan jati diri sendiri dan itu bagus.
Ada juga yang sudah mengenal dan berhasil menemukan jati dirinya. Mereka itu yang kemudian mengabadikan tentang siapa diri mereka dengan menulis. Berharap tulisannya dapat dibaca dan orang lebih mengenal siapa dirinya.
Tulisan itu abadi. Tulisan akan tetap terbaca walaupun sang penulis telah tiada. Menulislah yang baik-baik, yang menyadarkan dan mudah dilakukan, karena hal baik yang tersalurkan melalui tulisan dan dikerjakan akan menjadi amal yang senantiasa mengalir. 

Kelima. Menulis tentang kisah dan kasih. Semua orang pasti memiliki kisah hidup yang berbeda. Misalnya kisah pilu hidup di batas kota dan hadiah terindah di hari ulang tahun. Memang benar hidup itu pilihan, semua tergantung pada kita. 
Ada yang hanya menyimpan kisahnya di ruang waktu yang tidak seorangpun mengetahuinya. Namun tak jarang yang melukiskan kisahnya lewat tulisan. Agar ingatan tentang sang kisah tak hilang oleh musim.
Kisah kasih banyak memenuhi ruang tulis yang tersedia. Mengisahkan tentang terkasih memang tidak ada habisnya. 
Teruskan saja menulis. Selesaikan tulisanmu. Tentang apapun itu, termasuk tentang kasihmu yang mungkin tidak memiliki waktu untuk membacanya. Tidak jadi masalah bukan?

Keenam. Menulis adalah untuk berbagi inspirasi dan motivasi. Kehidupan adalah roda yang berputar. Saat putaran di atas kadang membuat lupa dengan lingkungan sekitat yang mungkin membutuhkan uluran tangan kita. 
Saat berhenti di bawah akan terasa dan pasti kita membutuhkan sesuatu yang dapat membangkitkan semangat kembali. Hal yang memberikan kita alasan untuk hidup besok pagi.
Tulisan motivasi misalnya. Motivasi tidak hanya didapat dari seminar saja, sebait tulisan dapat menjadi motivasi yang akan membangkitkan semangat berkarya, semangat hidup.
Kisah-kisah inspirasi yang dirasa perlu orang lain ketahui, tidak ada salahnya jika kita bagikan sepenggal kisah kita. Yang terpenting dalam hidup adalah rasa syukur.

Ketujuh. Menulis adalah mengukir sejarah kehidupan. Menulis berarti telah mengukir sebuah sejarah. Sejarah yang akan dikenang sepanjang masa. 
Tanpa tulisan, sejarah tidak akan ada. Mungkin hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut, yang bisa jadi akan mengubah alur cerita. Dengan tulisan, cerita sejarah tidak akan berubah karena setiap waktu akan terukir sejarah baru.
Ukirlah sejarahmu. Bisa tentang cerita perjalanan hidup menemukan cinta sejati. Seperti kisah bapak B.J.Habibie dan istrinya ibu Hasri Ainun, yang menginspirasi kaum muda untuk melukis kisah sama. 
Habibie dan Ainun menikah, Romeo dan Juliet tidak. Namun keduanya ukiran kisah cinta sejati.
Sejarah menceritakan awal, rintangan yang menghadang, masa kejayaan, hingga kematian.

Kedelapan. Menulis adalah soal rindu. Penyakit yang obatnya sangat mahal hingga apotik tidak berani menjualnya adalah rindu. Bagiku rindu ialah perasaan yang kerap kali menghancurkan mood. 
Rindu juga tidak memberi alasan untuk sekedar menyapa atau tinggal sejenak. Ibarat kata rindu seperti jalangkung yang datang tak diundang dan pulang tak diantar. 
Rindu yang tidak dapat aku sampaikan kepada sang tuan, hanya dapat ku tuangkan dalam barisan huruf abjad yang dia tidak akan pernah mengertinya.
Rindu. Bukan hal mudah mengusirnya tanpa temu. Kata-kata mungkin bisa mewakili rasa, walau hanya tersimpan disembunyi. 
Kamu adalah objek penyebab rindu itu. Sang tuan yang tidak tahu diri. 

Kesembilan. Menulis adalah cara manjur menolak lupa. Sebagai seorang pelajar yang memiliki daya ingat standar bahkan cenderung lemah untuk mengingat tentang pelajaran ataupun ilmu, maka menulis adalah pengingat terbaik. 
Dengan menulis dan membacanya kembali ilmu tidak akan hilang. Rajin membaca akan mempengaruhi banyaknya tulisan yang akan memenuhi lembar demi lembar buku catatan.
Bukan ilmu yang pergi dari ingatan, namun karena tidak ada pengikat maka ilmu akan seperti daun kering yang jatuh dan terbang tertiup angin.
Tanpa menjadi seorang peneliti, kita dapat mengetahui deskripsi dari suatu objek dengan membaca tulisan hasil penelitian seorang ahli.
Jurus ampuh untuk menolak lupa yaitu membaca dan menulis.

Terakhir kesepuluh. Menulis adalah untuk bahagia. Menceritakan hal sedih berarti menyalurkan kesedihan. Begitu pula sebaliknya, menceritakan kabar gembira berarti memberikan kebahagiaan. 
Wanita, pemilik perasaan tersensitif yang sebagian besar tidak dapat diam memendam rasa di dalam hatinya. Namun bukankah kita akan bahagia jika melihat orang tersayang turut bahagia mendengar kabar gembira dari cerita kita?
Mulailah menceritakan segala hal yang menimbulkan kebahagiaan tanpa menyakiti siapapun, lalu cukup menuliskan segala kesedihan, sakit hati, kecewa dilembar kosong yang tersisa dan jangan dibaca lagi. Cukup buku diary yang menyimpan tulisan itu.
Merasa cukup dengan segala yang dimiliki menimbulkan perasaan tenang dan bersyukur adalah jalan pintas menuju kebahagiaan.

BIODATA PENULIS

Namaku Suhesti Marjanah. Lahir pada tanggal 12 November 1999. Aku memiliki ibu dan bapak yang selalu mendukungku. Aku juga memiliki satu adik perempuan. Saat ini aku adalah seorang mahasiswa semester tiga Diploma Akuntansi di Institute Teknologi Bisnis di Kabupaten Sukoharjo. Hobiku membaca novel dan menulis sebagai salah satu media curhat. 

Share:

Post a Comment

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis