APAKAH TULISAN BERIKUT INI LAYAK UNTUK DIBACA?

Oleh : Rahma Octia

 


 

Mengawali pagi dengan 'sesuatu hal yang baru' itu menyenangkan, ya? Membangkitkan semangat, ide dan keberanian untuk segera menyelesaikannya. Adapun aku, pada hari untuk pertama kalinya menjalani tantangan #10hariruangnulis @ruang_nulis dan tentu saja kegiatan ini merupakan sebuah hal baru yang kemudian menjadi alasan kuatku memulainya.

Ohya, menurutku, 'sesuatu hal yang baru' akan dapat berjalan bila kita mau memulai. Misalnya jika belum pernah menulis, maka mulailah menulis; mulailah dari kata yang paling sederhana. Begitu nanti naskahnya selesai, minimal kita sudah punya 1 kali pengalaman menulis. Begitu pula seterusnya.
Tak ada kata terlambat. Mari kita mulai!

 




Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika bilangan "suka" pada sosial media dianggap sebagai salah satu patokan untuk menilai kelayakan sebuah karya. Sungguh, bila itu terus terjadi, tak ada pilihan kedua bagi si pemula selain menghentikan imajinasinya.


Setiap karya, ada nilainya. Kita tak pernah tahu di hati siapa karya tersebut menjadi sumber inspirasi dan motivasi setelah lelah menjalani hari.

 

Lalu tertulislah sebuah perwujudan niat yang sudah lama terpatri. Karena aku yakin segala yang berasal dari hati akan sampai pula kepada hati.

 


 

Maksimal belum tentu sempurna, berlebihan juga tak baik.
Sejak merehatkan ego dalam mengejar arti kesempurnaan, pemahamanku tentang sempurna itu sendiri pun ikut berubah.

Dulu itu..

Kesempurnaan adalah tak berkekurangan, tak juga memiliki cela.

Bagaimana mungkin aku menerapkannya di setiap naskah tulisanku?

Rigid sekali, bukan ?

Beruntungnya, kini pengertian sempurna sudah tak lagi begitu.

Kesempurnaan tetap harus diraih, bukan karena tak ada lagi yang harus ditambah, tetapi karena tak ada yang perlu dikurangi.

 



Telah setengah tahun kita diselimuti oleh sebuah ketidakpastian yang nyata.
Langit yang tadinya cerah, tampak temaram karena penawar itu tak kunjung tiba.
Para konspirator pun bersorak-sorai sementara peng-hipotesa belum berani angkat suara.


Percaya tidak percaya, begitulah realitanya.

Ada yang percaya karena paham ilmunya, ada yang percaya karena sudah melihatnya dan ada yang percaya ketika sedang mengalaminya.

Besar harapanku kita tak termasuk golongan ke tiga.

Bila sudah kena, baru mengklaim diri percaya.

 



Datangnya tantangan tak menunggu kesiapanmu.

Ribuan kesempatan tak bertanya kapan jadwalmu.

Linearnya waktu enggan kembali menjemput kekecewaanmu..

Kini tibalah saatnya untuk kita lebih fokus..
Memperlakukan isi sebagai isi, dan bungkus sebagai bungkus.

Mengatur ulang mega rencana, siapa tahu di hari esok kian berguna..

Tulisanku pun ikut bersuara, menyatakan jiwa yang bernas sukar diperdaya.

Tersebab rutin ia ditempa, hingga lebih dari sekedar memiliki harga..

 




Jika ditanya ingin ditemani oleh siapa, yang bermuka masam atau berwajah ceria?
Sudah barang tentu kita memilih opsi kedua.

Seseorang yang bersamanya kita dapat menyerap energi bahagia. Dengan kata lain, selalu saja merasa gembira.

Satu hari tak melihat wujudnya, tak terlempar senyumannya atau tak mendengar gelak tawanya, seketika ruangan pun menjadi hampa.

Oh, iya. Kalian sudah tahu belum ya?
Rupanya kalau kita gembira, tenaga kita juga besar. Kalau tenaga kita besar, kita lebih mudah mencapai hal yang jauh lebih besar. Kalau ada yang tidak kita suka, temukan yang kita suka, belajar yang kita suka.
Karena..
Kegembiraan adalah Energi kita.


 



Tak sedikit insan yang sedang berjuang dalam perjalanannya, akan stagnan di pertengahan.
Alasan demi alasan diuraikan, sebab diri tak ingin disalahkan.

Perhatikanlah para musafir di sana..
Terus berjalan tak mengenal cuaca.
Hujan badai telah dilaluinya, jeda sejenak hanya untuk melepas dahaga.

Kata Menyerah bukanlah slogannya.
Ambu keraguan segera ditepisnya.
Berhenti? Jelas bukan itu tujuannya.
Sekencang apapun angin menerpa, ia tetap akan melanjutkannya.

 





Tersiarlah kisah seorang pemuda
Terlahir yatim lagi papa
Siang terlelap, malam terjaga
Menanti Wahyu dari Tuhannya

Ia lalu bangkit dari dipannya
Duduk sembari mengingat janji Tuhannya
Bahwa nikmat dunia adalah fana
Akhirat itu tempat sebenarnya

Maka telah sampailah satu kabar kepadanya
Tuhan tak pernah pergi, tak pula membencinya
Air mata tak sanggup ditahannya
Damai hati atas segala karunia Nya

 

 




Kita adalah apa yang kita tuliskan.
Apa yang kita tulis, itulah yang akan kita dapatkan..

Tak terasa telah memasuki gerbang ke sembilan..
Bagaimana wahai pejuang, seru sekali bukan?
Lembaran yang tadinya putih, kini dapat dibaca pemirsa budiman..

Ketahuilah, diri ini bukanlah sastrawan, yang cakap katanya penuh aksara serapan..
Tetap semangat, bertahanlah duhai kawan.
Demi menjemput sebuah kemenangan.

 

 

 










"Semua tampak tak mungkin hingga selesai dikerjakan."

Ya. Sebuah kalimat sarat makna itu berhasil membius ku hari ini. Bagaimana tidak, sebab pada hari esok 100 kata yang biasa aku tulis sudah tidak berlaku lagi.

Tak berlaku dalam artian selesainya segenap tantangan.
Sudah begitu, aku bawa saja tulisanku jalan-jalan. Siapa tahu hatiku sedikit lebih tenteram.

Sontak kembali teringat ketika aku memulainya di awal. Aku lalui sembari menikmati setiap prosesnya, dan tanpa sadar sudah sampai di tempat tujuan.

Hmm.. Sepertinya aku masih leka pada kata. Cukup sampai disini atau ku teruskan saja?

 

Tentang Penulis:

Rahma Octia, perempuan Aceh, asal Abdya.

Sang penikmat sunyi serta aksara.

Kini sedang sibuk dalam proses menaiki anak tangga, aktif di kegiatan menulis kata.

Jejaknya bisa dilacak di media sosial instagram: @rahma_octia.

Celotehannya sesekali terselip di akun Facebook: Rahma Octia.

Share:

33 comments :

  1. Mantap
    Semangat terus dalam berkarya πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas semangatnya ♥️
      Semangat juga untuk untukmu selalu.
      Tulisan ini boleh di share yaa

      Delete
  2. Replies
    1. Terima kasih ♥️
      Tulisan ini boleh di share yaaa

      Delete
  3. Replies
    1. Terima kasih atas semangatnya πŸ˜‚ ♥️
      Boleh di share yaaa

      Delete
  4. Replies
    1. Terima kasih banyak kakak ♥️
      Boleh di share yaa

      Delete
  5. Keren deh. Semangat utk tulisan2 selanjutnya ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih ♥️
      Semangat juga untukmu yaa

      Delete
  6. Replies
    1. Aamiin. Terima kasih ♥️
      Boleh di share yaa tulisan ini

      Delete
  7. Menulislah dan kau akan dikenang tanpa perlu terkenal πŸ™‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan izinNya, kuteruskan menulis kata. Terima kasih ♥️
      Boleh di share tulisan ini yaa

      Delete
  8. Replies
    1. Love you too!
      Thanks for being my inspiration to write and build the words.

      Delete
  9. Replies
    1. Aameen. Thank you ♥️
      Feel free for sharing this to public πŸ™πŸ»

      Delete
  10. Mantapp, Semangat tiaaa πŸ’œπŸ’œ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aammin. Terima kasih, Penulis ♥️
      Semangat juga untukmu selalu, ditunggu buku berikutnyaa

      Delete
  11. Replies
    1. Aamiin. Makasih byk yaaa ♥️
      Boleh di share ke publik πŸ™πŸ»

      Delete
  12. Semangat kak!
    Jadi bisa merenung tentang alasan menulis 😊
    semoga kita semua #MengingatiNiatMenulis masing-masing 😊

    ReplyDelete
  13. Terima kasih ♥️
    Semangat juga untukmu yaa kak, aamiin

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis