Aksara untuk Duniaku

          


Oleh : Anita Ratna Anggraeni

 

Dulu sebelum memutuskan untuk menulis di gawai atau media sosial, aku biasanya lebih suka berbicara dengan diri sendiri merangkai kata dalam hati yang ditemani oleh otak. Terkadang, hati dan otak akan berdebat semaunya. Semua kata yang terangkai akan tersimpan begitu saja tanpa pernah dituliskan. Sampai suatu ketika, ingatanku perlahan tidak bisa mengingat kejadian atau rangkaian kata yang sudah aku pikirkan dengan baik. Aku akan mudah lupa tentang apa pun yang telah aku lakukan atau pikirkan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis di catatan gawai.


Begitu banyak yang aku tuliskan dari kejadian tidak penting hingga penting, dari rangkaian kata penyemangat hingga galau sekali pun. Namun, sayang gawaiku rusak karena tersiram air. Alhasil semua tulisanku hilang, dari situlah akhirnya aku memutuskan menjadikan tulisanku entah itu cerita suatu kejadian yang aku alami, ungkapan perasaan galau, memberi semangat, atau apa pun sebagai takarir di akun instagramku. Setidaknya kalau aku lupa, tulisan-tulisan itu masih ada dan bisa kubaca ulang.


Kupikir setelah ingatanku yang tidak bisa mengingat dengan baik, hidupku akan berjalan biasa-biasa saja. Bahagia sewajarnya, selalu bersyukur, dan terus menulis seperti biasanya. Sampai pada akhirnya, hidup yang kuanggap biasa itu berubah begitu saja. Sebuah luka menghampiriku, luka yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Namun, dari luka itulah alasanku untuk menulis semakin besar.


Daripada luka itu terus aku salahkan dan berujung dendam dengan dia si penggores luka. Alhasil, aku memutuskan menuangkan segala amarah, dendam dan berbagai perasaam lain itu ke dalam sebuah tulisan. Aku terus-menerus menulis kalimat demi kalimat untuk sekadar menyembuhkan luka dan menghilangkan rasa dendam yang ada. Perlahan, hatiku jauh lebih damai, ikhlas menghadapi semuanya, lebih menyukai tentang tulisan, dan bisa bersahabat kembali dengan si penggores luka. Dari hal inilah, aku belajar bahwa tak selamanya luka membawa dampak buruk. Bisa saja membawa kita ke hal-hal baik yang belum begitu ditekuni sebelumnya, menulis misalnya.


Seiring berjalannya waktu, banyak tulisan yang kuunggah di media sosial. Memang sih, kebanyakan tulisan galau, patah hati, atau gagal beranjak dari masa lalu gitu. Sampai-sampai, ada yang menyebutku si penulis galau karena hanya bisa menulis tentang kesedihan, terlalu membawa perasaan, dan tidak bisa bahagia. Dia tidak tahu, bahwa aku sengaja mematahkan hatiku kembali hanya untuk menulis kalimat-kalimat itu. Padahal, nyatanya aku sudah berdamai dengan masa lalu. Oh ya, aku juga menulis tentang kalimat-kalimat penyemangat, kritikan, dan edukasi juga. Namun, yang dilihat oleh dia hanya kalimat galau-galau yang katanya tidak bermakna itu.


Aku tidak peduli dengan sebutan itu, malahan aku membuktikan bahwa tulisan-tulisan galau itu bisa menjadi sebuah karya bersama teman-temanku. Aku mengumpulkan tulisan yang berceceran itu, menjadi sebuah buku antologi. Rasanya senang sekali, bisa melahirkan buku. Ya, walaupun baru antologi sih. Namun, setidaknya aku bisa sedikit memberi apresiasi kepada diri sendiri yang tetap kuat menghadapi cuitan tidak jelas. Hal inilah, yang membuatku terus menulis sampai hari ini. Kalau bukan diri sendiri, lalu siapa yang akan memberi apresiasi terlebih dulu? Masih mau menunggu pengakuan orang lain terus?


Tidak semua kata bisa diucapkan begitu saja, tidak semua ungkapan rasa bisa diutarakan tepat kepada tujuan. Namun dengan menulis, semua yang dirasakan bisa ditulis begitu saja seakan bukan si pemilik rasa. Entah akan sampai kepada tujuan atau tidak, yang penting dari menulislah semua kata yang tidak bisa terucap bisa dibaca oleh semuanya. Siapa tahu ada yang juga merasakan sesuai dengan yang aku tulis. Bisa saling berbagi cerita, memberi solusi, dan menulis kisah lain mungkin. Jadi, dari menulislah semua rasa bisa aku ungkapkan begitu saja tanpa berharap orang yang kumaksud memahaminya. Kalau tidak memahaminya ya tidak apa-apa, mungkin aku bisa bertemu orang lain yang senasib. Namun, kalau memahaminya ya syukurlah.


Menyukai menulis, membuatku harus lebih suka dengan membaca juga. Aku memang sudah suka membaca, jauh sebelum berani menunjukkan tulisan ke orang lain. Namun, sejak benar-benar suka menulis segala hal, aku juga perlahan suka membaca karya-karya yang sebelumnya belum pernah kubaca. Dulu, aku hanya suka membaca karya fiksi berjenis romantis atau drama. Sekarang, segala jenis karya lain mulai kucoba bac. Jadi, menulis membuatku lebih rajin membaca berbagai karya.


Membaca berbagai karya membuatku merasa lebih bahagia. Entahlah, aku bahagia melihat kisah yang ada. Tak hanya itu, menurutku menulis juga bisa membuat merasa bahagia. Katanya 'kan, bahagia diciptakan oleh tiap-tiap manusia. Nah, bahagia versiku adalah ketika menulis segala hal yang kumau. Boleh 'kan, alasanku menulis karena ingin menemukan bahagia versiku?


Memang, bahagia diciptakan oleh tiap-tiap manusia. Namun, terkadang ada manusia yang sibuk mengomentari kebahagiaan manusia lain. Seperti perkataan ini, "Lah, beneran bahagia karena nulis? Bukannya kamu anak teknik kok nulis sih. Pakai belajar bahasa pula, sok ngebenerin tulisan orang lain. Emang udah tahu ilmunya? Udahlah, fokus sama bidangmu aja udah." Terlihat sepele sih perkataan ini, tetapi aku yang mendengarnya bisa saja merasa diremehkan bukan?


Apa salah orang yang tidak belajar sastra bahasa dari awal, tiba-tiba belajar bahasa? Bukankah belajar tak mengenal latar belakang? Namun, perlahan aku menjadikan perkataan itu sebagai semangat untuk terus menulis, belajar bahasa, dan mengedukasi. Tak hanya itu, aku juga membuktikan bahwa anak teknik juga bisa menerbitkan buku antologi puisi dan senandika lo. Aku sekarang tidak peduli apa kata manusia lain karena aku akan tetap menulis, untuk membuktikan bahwa semua orang berhak untuk berkarya di bidang lain yang disukainya.


Aku mulai mengikuti beberapa kelas daring tentang ejaan, bahasa media sosial, cara menulis puisi hingga cerpen. Lama-kelamaan, aku mulai memahami seluk-beluk bahasa Indonesia. Aku semakin penasaran dan semakin ingin menulis dengan lebih baik lagi. Tak hanya itu, aku juga mulai rajin memberi edukasi kepada teman-temanku tentang ilmu yang kudapat dari kelas daring yang kuikuti. Bagiku, tulisan tidak hanya tentang isi hati. Namun, bisa juga sebagai sarana berbagi ilmu kepada orang lain.


Setelah mengikuti kelas daring dan mulai mengedukasi orang lain tentang cara menulis yang baik dan benar dari segi ejaan dll. Aku juga menemukan beberapa komunitas yang berisi orang-orang penyuka tulisan. Menyenangkan rasanya, bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kesukaan yang sama. Saling berbagi cerita, ilmu, dan juga semangat. Aku akan terus menulis tentang apa saja, berkenalan dengan orang baru dari berbagai kota. Karena dari menulislah, aku bisa mengenal banyak orang dan juga bisa lebih tahu budaya, kebiasaan, dan tempat-tempat wisata dari berbagai kota. Siapa tahu, suatu hari nanti aku bisa mengunjungi mereka di kotanya. Tidak ada yang tahu kan.


Dunia ini fana, semua manusia hanya sedang menunggu waktu untuk pulang ke tempat tinggal yang sebenarnya. Dengan menulis, setidaknya aku bisa membagikan ilmu, pengalaman, dan apa pun yang kutahu kepada manusia lain. Aku hanya ingin menjadi manusia yang bisa bermanfaat untuk manusia lain, agar suatu hari nanti jika waktuku telah habis. Tulisan-tulisanku akan tetap bisa dibaca berulang kali, karena ia abadi.


Tentang Penulis :

Gadis yang mempunyai nama pena Ara ini pernah begitu patah, hingga akhirnya menuangkan kegelisahan menjadi tulisan. Pernah menjadi kontributor di antologi puisi berjudul Kenangan dalam Genangan (2018), antologi puisi berjudul Maya (2018), antologi senandika berjudul Luka (2018), dan antologi puisi berjudul Pendar Arunika (2019). Kamu bisa menyapanya di instagram @araembara.

Share:

Post a Comment

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis