Sesederhana Itu Aku Menulis



Oleh: Isna Lestari


"Kenapa menulis?"

Aku sendiri tidak punya alasan khusus untuk pertanyaan itu. Kalau ditanya apa alasan aku menulis, ya karena hanya ingin menulis saja. Entah pada akhirnya apa yang aku tulis itu aku simpan sendiri untuk aku baca dikemudian hari atau untuk aku bagi dengan orang-orang yang entah aku tidak tahu apa mereka akan suka atau tidak dengan tulisan aku. Tapi, bukankah itu adalah urusan belakang? Yang penting nulis dulu kan? Harapanku adalah ketika dikemudian aku memiliki kesempatan membagikan tulisan aku untuk dibaca oleh mereka, aku hanya berharap apa yang aku tulis bisa memberikan dampak yang positif atau sekedar menghibur mereka.


Dengan menulis aku bebas berekspresi, sangat bebas. Dengan menulis aku bebas mengeksplor yang aku inginkan. Aku bisa mengasah kemampuan menulisku dengan terus menulis dan menulis. Karena menulis adalah salah satu cara aku untuk berproses, untuk kita belajar. Tidak mungkin sebuah tulisan itu dihasilkan begitu saja tanpa melalui proses pada saat penulisan. Hanya sekedar merangkai kata menjadi sebuah kalimat. Ya hanya sekedar itu. Tapi, aku yakin bukan sekedar itu. Memilih kata sampai merangkainya menjadi kalimat-kalimat bukanlah hal yang begitu mudah bukan? Perlu penyeleksian untuk membuatnya menjadi sebuah paragraf yang begitu nyaman saat kita membacanya. Disitulah aku belajar, karena itu aku menulis. Disamping itu aku juga bisa melatih fokus aku yang kadang suka berhamburan dimana-mana.


Memangnya bisa?

Tentu bisa. Bayangkan saja ketika kalian menulis, tiba-tiba ada yang mengganggu kalian selama menulis. Atau tiba-tiba apa yang kalian ingin tulis menjadi hilang atau gangguan lainnya. Alhasil?

Apa yang ingin ditulis buyar bukan?


Tapi tak apa. Saat itu terjadi, disitulah kita belajar untuk menjadi lebih konsentrasi, menjadi lebih fokus dengan apa yang kita inginkan.


Dalam hidup ini, setiap orang pasti memiliki dunia fantasinya sendiri, termasuk saya. Daripada membiarkan fantasi itu begitu saja memenuhi kepalaku, tidak ada salahnya untuk menyalurkannya dalam bentuk tulisan bukan? Meskipun aku mengaku bahwa pada akhirnya tulisan-tulisan itu hanya menjadi sebuah tumpukan yang akan memenuhi file dokumen pada laptopku. Tapi sekali lagi, bahwa tidak ada ruginya, tidak ada salahnya sama sekali. Mungkin saja suatu waktu aku punya kesempatan untuk mengembangkannya menjadi cerita yang lebih panjang. Setidaknya dengan aku menuliskannya, aku sudah punya gambaran kasar untuk cerita yang ingin aku buat bukan?


Aku termasuk orang yang sangat pemilih dalam bercerita. Tertutup? Tidak juga. Aku bercerita kepada mereka tentang hal-hal yang memang aku rasa perlu untuk aku bagi kepada mereka. Selebihnya? Diary.

Mungkin sebagian orang terkesan alay. Tapi menurutku, itu adalah hal yang biasa. Menumpahkan ceritaku menjadi deretan kata membuatku merasa bebas untuk bercerita, tanpa harus aku pilah dulu yang mana yang harus aku ceritakan. 


Sama seperti mereka yang cukup lega ketika bercerita dengan orang terdekatnya. Aku juga merasakan hal yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Dengan menuliskannya, suatu saat nanti aku bisa kembali membuka kepingan memori itu dan kemudian tersenyum mengingatnya.


Seperti lainnya, mereka semua melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti ke bioskop mungkin? Atau membeli buku keluaran terbaru? Atau belanja? Atau hanya sekedar jalan-jalan? Tapi, selain hal diatas aku juga melakukan hal lainnya selain menulis. Kenapa bisa menyenangkan? Entahlah. Ada kepuasan tersendiri ketika sudah menorehkan tulisan itu, merangkainya menjadi kalimat-kalimat yang bisa dibaca kembali. Entah cerita tentang diri sendiri atau cerita yang kita buat dalam imajinasi. Aku melakukannya semata-mata untuk menyenangkan diri, menghabiskan waktu ketika merasa lelah dan ataupun bahagia.


Setiap orang tentu punya cara tersendiri untuk merawat dirinya, untuk menyembuhkan dirinya dari luka-luka yang disimpannya, seperti dengan menulis. Saya yakin beberapa orang dari kita kadang menyimpan luka itu sendiri. Bukan tidak percaya sama orang lain, hanya saja tidak ingin menjadi beban atau tidak ingin dianggap lemah atau alasan lainnya atau mungkin sebagai bentuk pertahanan diri mereka. Sebagian orang tidak ingin luka dalam dirinya diketahui banyak orang. Kadang hanya butuh ruang sendiri untuk menyembuhkan luka itu, meringankan beban yang sudah dipikul, mencabut duri-duri tajam yang menancap dan melepaskan topeng yang selama ini dijadikan pelindung.


Di dunia ini setiap orang pasti pernah memiliki masalahnya sendiri dan kita tentunya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama bukan? Kadang beberapa orang tetap jatuh dilubang yang sama. Apa kita juga ingin begitu?


Aku menulis karena aku ingin berbagi atau mungkin saja mereka juga ingin berbagi. Mungkin saja mereka berada diposisi yang sama sepertiku namun hanya beda cerita. Bukankah menyenangkan jika seperti itu? Secara tidak langsung kita bisa membantu mereka bukan? Bukankah kita memang diharuskan untuk saling tolong menolong? Tapi kita tidak kenal. Apakah kita harus saling kenal untuk saling tolong menolong? Tidak bukan


Seorang penulis sekaligus penyanyi dan sangat menyukui mendaki gunung ini dalam bukunya yang berjudul Catatan Juang di halaman 198 mengatakan bahwa "Menulislah meski orang-orang mengejek mu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah", kalian pasti tahu bukan siapa tokoh yang aku maksud. Fiersa Besari.


Seperti yang dikatakannya, menulislah meskipun orang-orang disekitarmu mengejek tulisanmu, karena tidak ada yang tahu kapan tepatnya kita meninggal bukan? Dengan begitu ketika kita meninggal, kelak kita kita mempunyai jejak bahwa kita pernah ada. Aku hanya tidak ingin ketika sudah tidak ada lagi, maka yang tertinggal menjadi sebuah kenangan hanya sebuah foto yang mungkin suatu saat nanti akan hilang. Tapi dengan tulisan? Tulisan tidak akan pernah hilang, karenanya aku menulis, bukan ingin menjadikan tulisan karyaku terkenal tapi untuk menjadikannya sebuah kenangan. Kalaupun terkenal, itu adalah bonus bukan? Tidak dipungkiri bahwa beberapa orang menulis ingin menulis karena ingin mengenalkan karyanya kepada publik, begitu juga diriku. Tapi, aku tidak ingin menuntut diriku menulis agar terkenal, karena aku tidak ingin hal yang menyenangkan untukku pada akhirnya menjadi boom bagi diriku karena aku menuntut sesuatu dalam diriku untuk menjadi sesuatu yang lebih. Padahal tujuan awal aku menulis ya karena ingin saja, karena ingin melampiaskan sesuatu yang tidak bisa aku katakan dan untuk menghibur diriku.

 

 

Tentang Penulis:

Perkenalkan namaku Isna Lestari. Saat ini aku sedang melanjutkan studi profesiku, Apoteker di Universitas Hasanuddin. Menulis menjadi salah satu bentuk caraku untuk menghibur diriku sejak SMP hingga sekarang. Meskipun tidak terlalu aktif dalam hal kepenulisan tapi aku selalu menyempatkan diriku untuk menulis baik tentang diriku atau tentang fantasiku. 
Share:

1 comment :

  1. Catatan Juang!
    Semangat terus kak, dalam segala hal termasuk menulis­čą░

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis