Mengapa Harus Menulis?


"Apa alasan Rima menulis?" Aku diam, seolah meminta waktu untuk berpikir. Terpekur beberapa waktu, menatap jalanan yang membisu, langit berwarna biru, lalu kembali fokus memahami pertanyaan seseorang di depanku.

"Membagikan umur bukan hanya tidur," kataku kemudian, kalimat itu yang selalu kuungkapkan untuk menjawab pertanyaan mengapa dan masih menjadi jawaranya.

Indah ya, kalau jadi mereka-penulis yang mendedikasikan dirinya untuk menulis, membagikan ilmu, agar nama tetap abadi walau raga tak lagi berpijak di bumi. Aku ingin seperti mereka, meskipun masih royalti yang menghiasi isi kepala. Setidaknya rindu ini dibayar dengan pundi-pundi. Aku ingin mengumpulkan semuanya-rindu para pembaca setia.

Ingin berbagi rasa bukan hanya untaian kata. Karena dahulu aku menulis disebabkan ada yang menggonggong dalam dada. Menggigit-gigit, meminta waktunya untuk berbicara. Tapi, rasa tak bisa bersuara, ia hanya berupa gelora yang menghentak-hentak tanpa nada. Maka aku berinisiatif untuk memulainya dalam kata, agar ia punya ruang untuk memuntahkan segala resah yang ada, agar ia bisa kembali seperti semula. Iya, menulis itu perantara praktis bagi hati untuk meninggalkan jejak di bumi.

New experience, kita selalu memiliki kata "new" setiap harinya. Entah berbentuk dalam suka ataupun duka. Luka ataupun bahagia. Hal baru yang tercipta selalu mendorong kita untuk bercerita. Bercerita apa saja, baik dari apa, siapa, dimana, mengapa, hingga bagaimana hal baru itu bisa terjadi.

Manusia itu alamiahnya menceritakan diri sendiri dan itu yang terjadi padaku. Oleh sebabnya menulis menjadi salah satu alat untuk berbagi. Selain lidah yang kadang tak kenal henti jika bertemu lawan bicara yang sesuai dengan mau hati.

Karena hati butuh untuk didengar. Kita sebagai manusia alamiah dasarnya adalah bercerita. Gemar sekali berbagi rasa, apalagi jika bertemu telinga yang sedia menjaga, juga paham makna, walau cerita kita hanya berisi mengapa atau bagaimana.

Kita hanya butuh tempat, wadah, platform yang tepat. Menulis adalah salah satu pilihanku, sebagai tempat sejuk yang sedia menampung saat diri merajuk atau tak berminat mengangguk.

Kata "NO", akan lebih mudah dituliskan dibanding kulisankan, itulah alasan kesekian dari pertanyaan untuk apa Rima menulis? Modalku menulis juga hanya dua kata. Ditambah lagi rasa bangga yang menelisik jiwa. Kala belajar bahasa indonesia.

"Rima itu salah satu unsur dalam puisi" kata guruku.

Kamu tahu, kan, gimana respon anak SD dengar nama temannya ada dalam sebuah bacaan, soal, atau pelajaran, mesti jadi bahan ejekan. Akan tetapi, aku suka ejekan yang satu ini dibanding yang lainnya. Setiap guruku sebut "rima", mata-mata jahil akan melirikku dilengkapi senyum menyebalkannya.

Rima, persamaan kata. Safitri Rimadhanti, nama yang dipilih mama dan papa. Aku merasa seperti sudah digariskan untuk menulis. Semua orang tahu Rima itu salah satu unsur dalam puisi, bukan?

Aku itu anak gadis satu-satunya, hobi berkelana, dari kecil sudah dibawa kemana-mana. Aku sendiri bingung setiap ditanya orang apa? Menurut darah yang mengalir di tubuh aku orang Minang. Sedangkan menurut tempat kelahiran aku orang Jawa, dibesarkan di Lampung, mengadu nasib di Aceh. Tanah Jawa, kecuali Bali sudah berhasil kulalui, kata mama begitu. Karena memori masa kecil aku tak mengingatnya.

Jadi, tergelitik untuk membagi pengalaman, tentang manusia di bumi juga budaya masing-masing daerahnya. Hehe

Sampai hari ini masih betah jadi manusia nomaden. Kadang aku tak merasakan apapun. Entah, manis, pahit, asam, asin hidup. Melaju aja, ngalir terus. Kayak mayat hidup berjalan di bumi.

Namun, tak kusangka saat mendapat voucher diskon terbit di @ellunarpublish_ aku mencoba menulis dalam jumlah kata yang lebih banyak dari biasanya. Mengurai semua memori lama, memintal kenangan demi kenangan. Gejolaknya luar biasa, menggugah jiwa yang telah lama tak bersuara. Kadang aku ingin diam saja, bungkam, tak berbicara, kehilangan kata-kata, hingga hati mati rasa.

Lagi-lagi menulis berhasil menjadi salah satu pelampiasan rasa, cara untuk mengusik hati yang telah lama tak bersuara. Lalu, berpikir, memahami setiap kejadian yang ada. Memainkan puzzle-puzzle yang sulit dipecahkan. Merangkai hikmah yang tersirat dalam suratan berupa untaian kata.

Tak ada ubahnnya, seperti semua alasan yang telah kusebutkan. Aku menulis karena ia adalah tempat menyampaikan keluh kesah yang ada. Kita hanya butuh kata, tetapi tidak perlu bersuara, bisa setajam mata pisau hingga membuat sang pembaca risau. Merasakan dengan nyata, tanpa harus dipaksa. Karena membaca adalah seni lainnya.

Pembaca hanya akan bertumpu pada tulisan yang sesuai dengan nada-nada di hatinya. Tulisan se-berpengaruh itu. Lagian, aku memang bukan ahlinya dalam seni berbicara. Dengan menulis kita bisa menggiring pembaca merasakan apa yang kita rasakan dengan cara mereka sendiri. Meminta mereka hadir dalam cerita dengan keinginan dan kebutuhannya masing-masing.

Karena tulisan memiliki nada dan rima, yang takkan berubah walau irama setiap pembaca berubah-ubah. Menulis itu mengirimkan wabah. Berupa rasa dalam untaian kata.



Tentang Penulis:

Safitri Rimadhanti. Lahir 28 Januari 1998. Gadis kelahiran Subang, berdarah Minang ini, sudah sejak lama tertarik dengan dunia literasi. Ia gemar sekali membaca. Penulis buku, Berbisik Tanpa Suara. Penulis muda berbakat, penggubah akun Instagram @novelmasadepan. Galak sekali kalau diajak berdiskusi tentang mimpi dan harapan.

 

Share:

Post a Comment

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis