Mengapa Aku Menulis

Oleh: Rosy Susanti

Berawal dari kisah cinta monyet saat SMA yang sayang rasanya jika hanya disimpan di otak, menguap kemudian menghilang begitu saja. Akupun mulai menuangkan kisah itu dalam bentuk tulisan di selembar kertas. Ya, selembar kertas untuk untuk hari yang bermakna, mengenang kisah kasih di sekolah dan kisah cinta bertepuk sebelah tangan. Waktu itu rasanya miris. Kisah cinta hanya sebatas goresan tangan yang disimpan rapat-rapat di bawah kasur agar tidak dibaca orang lain. Namun sekarang satu persatu kisah itu malah bermetamorfosis menjadi cerpen, cerbung dan semoga novel nantinya.

Kata orang-orang yang sudah menghasilkan banyak tulisan dan buku, supaya bisa menulis harus banyak membaca dulu. Membaca adalah hobi yang sudah mendarah daging bagiku. Kalau sudah membaca apalagi novel, aku bisa lupa waktu. Mungkin sama terlenanya dengan menonton drama korea. Setiap aku membaca novel, aku selalu berpikiran "Bagus banget ceritanya, kayaknya gampang bikin tulisan seperti ini". Aku pun mulai mencoba untuk menulis. Tapi ternyata, menulis itu sulit dan butuh proses yang panjang. Menuangkan ide dalam bentuk tulisan dan merangkai kata tidaklah mudah. Semua orang bisa menulis, tetapi belum tentu bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas. Apalagi menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama. Sungguh manusia yang luar biasa menurutku.

Manusia sebagai makhluk sosial perlu berkomunikasi dengan orang lain untuk kelangsungan hidup mereka. Butuh makan, butuh minum, butuh uang dan lain sebagainya hanya bisa disampaikan dengan komunikasi. Namun, apakah komunikasi itu harus selalu dilakukan dengan bicara? Nggak juga. Bisa dengan gestur, bahasa isyarat dan juga tulisan. Yang penting pesan yang dimaksudkan tersampaikan dengan baik.

Namun, pernahkan kalian merasa orang-orang tidak memahami apa yang kalian sampaikan? Pasti kalian akan mencari cara lain supaya mereka memahami dan mengerti apa yang kalian maksud. Nah, bagiku sendiri jika orang lain sulit memahami maksud dan keinginanku, maka aku akan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Menjadi cerpen atau hanya sekedar fiksi mini yang menggemaskan. Kalau sudah begitu, aku merasa puas dan lega. Lumayan ya, kegusaran berbuah karya sederhana. Kalau kamu, apa yang kamu lakukan jika ingin dipahami oleh orang lain?

Aku punya sedikit cerita. Kata orang, aku terlalu banyak makan-makanan yang telah dikerubungi semut. Kenapa? Karena konon kalau kita sering makan-makanan yang dihinggapi semut, bisa menyebabkan penyakit lupa akut. Kalian pasti bertanya, benarkah semut menjadi biang kerok penyebab lupa? Entahlah, aku juga tidak tahu pasti dan tidak tahu juga bagaimana menjelaskannya secara ilmiah.

Untuk mengatasi penyakit lupa ini, aku biasanya akan menulis hal-hal penting dalam sebuah catatan ajaib  yang selalu kubawa di dalam tasku. Catatan itu seperti kantong ajaib Doraemon. Berisi hal-hal penting yang membantuku setiap saat. Ada rapat, janji, bahkan catatan belanja barang rumah tangga yang akan dibeli kucatat dengan rapi disana. Benar-benar ampuh melawan penyakit lupa. Namun, masalah besar datang kalau aku lupa membawa catatan ajaib itu. Adakah yang bisa membantu agar aku tidak lupa membawa catatan ajaibku itu?

Kadang aku merasa tidak puas dengan keadaanku saat ini. Bukan berarti tidak bersyukur. Lumrah jika manusia mempunyai keinginan lebih untuk membuat hidup dan kehidupannya nyaman. Namun, apakah mungkin kehidupan itu berjalan sesuai dengan kehendak kita? Bukankah kekurangan dalam hidup itu menjadi pelengkap kelebihan sehingga mereka saling bersinergi yang membuat kehidupan menjadi lebih berwarna? Aku rasa benar.

Sangat jarang sekali hidup ini berjalan sesuai dengan alur skenario kita. Karena manusia diciptakan untuk menjadi aktor dalam panggung kehidupan bukan sebagai sutradara yang mengatur jalannya semesta. Lalu kapankan kita bisa mengatur jalan kehidupan kita sendiri? Ya, kita bisa mengatur hidup ini sesuai skenario kita sendiri saat kita berkhayal. Bagiku, saat berkhayal aku menemukan dunia yang benar-benar sempurna dan jauh dari kekurangan. Khayalanku pun tidak kubiarkan menari indah di pikiran saja, tapi selalu kutuliskan menjadi sebuah kisah dimana akulah sutradara tunggalnya.

Namun disisi lain menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak ada rentang jam kerja, seolah-seolah setiap pekerjaan itu deadline-nya selalu di depan mata. Bahkan 25 jam dalam sehari 8 hari dalam seminggu belum tentu cukup untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Bukan hanya meminjam majas hiperbola, tapi memang demikian adanya.

Kalau sudah begitu, seorang ibu rumah tangga sangat butuh waktu istirahat yang full. Menenangkan pikiran, mengembalikan semangat yang hilang, tenaga yang sudah terkuras karena kesibukan mengurus rumah. Nah, waktu-waktu inilah yang kita kenal dengan "me time".

Sebagai ibu rumah tangga, aku tidak perlu menghabiskan waktu "me time-ku" dengan pergi menonton ke bioskop dengan teman-teman atau berbelanja baju dan tas model terbaru ke pusat perbelanjaan. Biasanya, aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar, menulis dan menulis. Menurutku inilah "me time" terbaik. Kalau kamu, apa "me time" terbaik menurut versimu?

Salah satu tugasku sebagai ibu rumah tangga adalah memasak. Kalau ada yang mengatakan memasak adalah seni menuangkan cinta dalam bentuk rasa, maka bagiku menulis adalah seni menuangkan cinta dalam bentuk kata. Menurutku menulis itu bebas namun terikat. Kita bebas berekspresi menuangkan berbagai hal di sebuah kertas. Suka lagu, bisa menulis syair. Suka sajak, bisa menulis pantun. Suka cerita, bisa menulis novel. Bebas!

Tapi ada hal-hal yang mengikat yang tidak bisa diabaikan dalam seni menulis. Norma, kaidah dan budaya masyarakat yang tidak boleh ditentang. Bebas berkreasi namun tetap di jalur yang benar menjadikan seni menulis itu lebih beradab dan berkelas. Sama seperti memasak, sesuai ketepatan takaran bumbu yang digunakan, menjadikan makanan itu lezat maksimal. Nah, begitupun dengan seni menulis.

Belakangan ini bermunculan berbagai komunitas online yang menampung karya tulis seluruh lapisan masyarakat. Tidak peduli apakah mereka pelajar, guru, karyawan swasta bahkan ibu rumah tangga. Juga tidak peduli apakah hasil karya tulis itu berupa cerpen, cerbung, fiksimini maupun novel. Yang penting setiap orang bisa menulis dan menghasilkan tulisan. Itu sudah termasuk apresiasi yang luar biasa sekali untuk dunia penulisan.

Tema yang diangkat dalam cerita-cerita itupun beragam. Pada umumnya tidak jauh dari tema umum yang sedang terjadi di kehidupan masyarakat saat ini. Kadang sebagian pembaca merasa jemu dan butuh tema lain yang lebih segar. Nah, disinilah saya ingin tulisan yang saya hasilkan memiliki tema yang berbeda dari yang sedang umum, namun tetap diterima baik oleh pembaca.

Mengikuti berbagai komunitas dan lomba menulis tidak lantas membuatku puas, karena ada satu cita-cita yang belum tercapai. Ya, memiliki buku sendiri. Walaupun jalan menuju itu bukan lagi hal yang susah di saat sekarang ini. Ikut komunitas menulis online, lempar sebuah judul ke forum, banyak peminat dan langsung cetak menjadi sebuah buku. Atau mau cara lain lagi? Mengikuti seminar online kepenulisan yang diadakan oleh penerbit-penerbit bergengsi yang tidak diragukan lagi kiprahnya, bimbingan selama waktu yang ditentukan dengan tutor, dan jadilah sebuah buku. 

Namun jalan yang  semakin mudah itu membuatku penasaran. Tulisan-tulisan bagaimana lagi yang akan laris di pasaran. Tulisan-tulisan yang diminati berbagai macam kalangan, yang apabila itu berupa cerbung, kemunculannya akan selalu dinanti oleh pembaca. Pada akhirnya rasa penasaran itu membuatku semakin sering menulis dan menulis, semoga suatu saat sampai ke tujuan itu. Aamiin.

 

Tentang penulis:

Namaku Rosy Susanti. Aku adalah seorang part-time teacher dan full time housewife. Menulis dan membaca dan traveling adalah hobiku. Untuk traveling aku sangat senang melakukannya satu paket dengan keluarga kecilku. Hari-hariku dihabiskan dengan berbagai kegiatan yang sangat bermanfaat. Karena motto hidupku memastikan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

 

Share:

3 comments :

  1. Baru tahu, sering makan yg disemuti, bisa jd pelupa akut....hhhmmm.


    http://artikel.ruangnulis.net/2020/08/menulis-sejarah-di-catatan-perjalananku.html

    ReplyDelete
  2. Asik baca tulisannya :)
    Semangat terus yaaa :)Mampirlah ke tempatku kalau senggang :D
    Menulis Dan Aku (@cuplikan.cerita)
    Makasih

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis