KALPASASTRA



Oleh: Handri Setiadi

 

Sebuah rumah bisa terbangun sempurna jika pondasinya telah dikokohkan. Sama halnya dengan menulis. Tidak akan terjadi sebuah tulisan yang dahsyat, sebelum dituntun oleh alasan yang hebat.

Maka dengan disusunnya 10 alasan saya menulis yang sederhana ini, kiranya dapat menjadi tuntunan dalam menggapai suatu alasan kuat agar segera menulis, lantas bermanfaat .

 

1. Emosi? Mari Menulis
Perasaan marah, bingung, cemas kemudian stres terkadang tidak bisdi kendalikan. Membuat hidup seakan tidak bermakna. Ditambah dengki, iri, dan penyakit hati lainnya yang selalu membuat hati seperti mati. Lantas, adakah cara yang mustajab untuk bisa "merantai" itu semua?
Teringat film "freedom writers", di mana sang guru, Erin Gruwell, sangat sukses menerapkan metode pembelajaran khusus kepada murid-muridnya yang barbar. Sebagai pengendalian dan terapi diri sebelum memulai proses belajar-mengajar. Metode itu adalah menulis secara bebas.
Maka, menulis adalah jawaban yang nyata dan praktis untuk menerapi diri. Yang saya pilih sebagai pelampiasan emosi ke dalam kata-kata.

 

2.  Belajar Bersyukur
Pernah nggak sih, mengalami kondisi seperti "selalu kurang" dan "selalu susah"?
Yah, wajar saja. Sebab manusia diciptakan mudah berkeluh kesah serta berputus asa apabila ia ditimpa masalah (al-Ma'arij: 19-20).

Kondisi tersebut bisa jadi mengufurkan perasaan, terlebih lagi merugikan masa depan. Bukankah pikiran akan mencerminkan kenyataan?
Namun, bisa jadi "keluhanmu" adalah sesuatu yang diinginkan orang lain. Lantas, bagaimana cara menyikapinya? Cobalah tuliskan "keluhan" yang sedang terjadi pada diri sendiri. Berilah kesan positif sehingga bisa mensyukuri. Maka dengan cara sederhana ini, saya bisa lebih belajar mensyukuri: "betapa berlimpah rahmat-Nya dengan menimpakan ujian (kenaikan pangkat) ini khusus kepada saya. Alhamdulillah."

 

3. Mengikat Buruan
Ketika "buruan" yang bermanfaat lewat. Cepat-cepatlah "mengikatnya" pada buku catatan. Lebih mudah lagi memasukannya rapat-rapat ke dalam ponsel, yang selalu digenggam. Mengapa? Karena ada dua tipe manusia; pertama (minoritas) yang dapat mengingat segala hal, kedua (mayoritas) yang lebih sering lupa. Maka, sebagai manusia dari golongan kedua ini, saya mengikat "buruan" dengan menulis.

Juga mengingat sabda Rasulullah saw. yaitu, "ikatlah ilmu dengan menulisnya."¹ Lalu, imam As-Syafi'irahimahullah menyatakan, "ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah ikatannya. Ikatkan buruanmu dengan tali yang kuat!"²
Lantas, tidakkah keliru ketika buruan datang,tetapi malah dibiarkan dan tidak dimasukkan ke dalam kandang?

¹Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026
²Diwan Syafi'i hal. 103

 

4. Ingin Berbagi  Sekaligus Bahagia? Mari Menulis 
Terkadang berbagi itu terasa sulit. Namun, sejatinya tidak sama sekali. Karena tidak melulu dalam keadaan sedang berada atau kondisi materi yang memadai.

Hah, bagaimana? Berbagi itu bisa melalui ilmu. Apapun yang ditulis kemudian bermanfaat sebagai kebaikan bagi orang lain, maka sesederhana itulah konsep berbagi. Pun ketika mereka tergerak hatinya untuk mengamalkannya

Bukankah secara tidak langsung sang penulis telah berbagi? Ilmunya mengalir, pahala mengucur bagaikan air.

Alangkah senang ketika seseorang mengucapkan "terima kasih" terhadap tulisan yang dibagikan. Bukan karena sebuah pujian. Namun, mengetahui hal itu bisa berguna, maka sudah cukup untuk merasa bahagia.

 

5. Dari Biasa Saja, Jadi Bisa Berkarya
Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa seseorang bisa menulis kurang lebih seribu kata perhari.
Hal tersebut seperti terlihat mustahil, tetapi mari coba bayangkan; setiap hari kita berkirim pesan melalui aplikasi chatting ataupun surel, melimpahkan kata-kata di cerita IG, WA, FB, maupun Twitter. Ditambah hal lainnya yang menumpuk di pikiran, belum sempat dituliskan.

Jika saja semua tulisan itu dipoles sedikit lebih kreatif, diniatkan untuk kebermanfaatan, kemudian mau berproses dengan terus berlatih. Maka semua orang jadi bisa mempunyai karya mereka sendiri. Biiznillah, kelak dari tulisan biasa saja akan menjadi karya luar biasa.

 

6. Menciptakan Keabadian
Allah Swt. telah memberikan fasilitas kepada manusia untuk bisa menjadi abadi: amalannya. Ada tiga amalan yang tidak terputus meski raga telah pupus. Dua di antaranya (amal jariah, ilmu yang bermanfaat) bisa saja digabungkan menjadi satu amalan, yaitu menulis.
"... menulis merupakan bekerja untuk keabadian." Begitulah Pramoedya mengemukakan pendapatnya. Mengabadi sebagai karya bermanfaat hasil dari diri. Supaya tidak menyia-nyiakan fasilitas tersebut dari Tuhan semesta alam, sekaligus tidak hilang dari peradaban, maka mulailah menulis untuk menciptakan keabadian.

 

7. Karya Diri Bagi Mereka
Dulu, saat saya melewati toko buku, selalu ada hasrat untuk membeli setidaknya sebuah buku saja. Yah, walaupun bukan buku mahal. Namun, dengan membeli buku yang tengah diobral, alhamdulillah sedikitnya dapat memenuhi hasrat yang menggebu. Lalu sisanya, saya menulis untuk dinikmati oleh diri sendiri. Seringkali saya membayangkan buku-buku yang terpampang di rak buku itu adalah karya dari sang amatir, saya sendiri

Betapa bahagianya ketika saat itu orang-orang terkasih senang bahwa saya bisa mencipta suatu karya. Walau saat ini hanya sebatas menulis dengan cara keroyokan (antologi), semoga itu bisa menjadi tangga untuk menerbitkan buku sendiri.

 

8. Di Balik Tulisan, Ada Batin yang Terpuaskan
Kepuasan batin dari masing-masing individu bisa jadi beragam. Namun, apapun bentuk kepuasan batinnya, menulis bisa menjadi salah satu obatnya.

Saat ingin mencapai suatu tujuan, ataupun sedang kesal misalnya. Dengan menuliskannya secara bebasinsyaAllah, batin bisa terpuasksan, walau mungkin tidak seluruhnya. Menulis tujuan, menginformasikan sesuatu, dan menggombal misalnya, akan lebih tersistem dengan cara ditulis.

Kepuasan itu akan datang dengan sendirinya ketika tulisan telah selesai dirangkai. Juga ketika berniat sharing karya tulis yang bermanfaat kepada khalayak. Maka di balik tulisan tersebut, ada batin yang terpuaskan.

 

9. Upaya Mengejar Cita
Walau saya tidak langsung berkeinginan menjadi seorang penulis. Namun, bukankah dengan menulis, gerbang cita-cita akan semakin cepat didapat, pun mudah dibuka? Saya terinspirasi dari seorang dosen. Beliau telah menelurkan banyak sekali karya tulis. 

Darinya saya menjadi tahu, bagaimana bedanya kualitas seseorang yang menulis dengan yang tidak menulis.

Sebetulnya tidak harus menjadi seorang penulis, tetapi profesi apapun butuh untuk pandai menulis, bukan? Jika belum pandai bagaimana? Mungkin saja bisa seperti saya ini. Terus berlatih menulis, menulis, dan menulis. Kapan? Dari sekarang dengan konsisten.

Bukankah menulis di atas batu saat ini lebih baik ketimbang nanti menulis di atas air?

 

10. Termotivasi Untuk Menulis
Saya sadar bahwa saya hanyalah seorang pemuda biasa. Ada saja perasaan saya sebagai manusia yang selalu merasa bukan siapa-siapalantas tidak percaya diri. Ungkapan dari imam Al-Ghazali rahimahullah yang menyatakan, "Jika engkau bukan anak raja, juga bukan ulama besar. Maka menulislah!" Mempunyai makna yang sangat mendalam bagi saya untuk semangat menulis.

Ditambah takjub dengan karya para penulis besar; ulama terdahulu, hingga penulis kontemporer. Dari Ihya Ulumuddin, Ayat-Ayat Cinta @kangabik beserta seminar motivasinya, seminar kepenulisan dari bunda @asmanadia, hingga semangat membara dari penulis hebat, Tere Liye. Dilengkapi motivasi dari buku @afifahafra79 (How To Be A SmartWriter) sebagai ujung tombak agar saya mulai menulis.

 

Alhamdulillah, dari alasan-alasan itulah saya termotivasi untuk merangkai kata sehingga menjadi karya. Yang kemudian saya susun sebagai kalpasastra (tuntunan menggapai cita) untuk menulis kepada Anda.

Semoga bermanfaat. Mudah-mudahan tulisan ini pun menjadi salah satu alasan Anda untuk segera menulis.

 

Bandung, 09 Agustus 2020

  

 

 

 

Biodata

 

Handri Setiadi dilahirkan 20 tahun lalu pada bulan Maret tanggal 15 di hari Rabu. Saat ini menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia. Hobi membaca, olahraga dan menulis. Kirimkan kritik dan saran melalui surel: handrisetiadi1@gmail.com. Bisa ditemukan melalui Instagramnya: @handris10.

Share:

11 comments :

  1. Replies
    1. Alhamdulillah, sukses bareng-bareng, Bro!

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Hai kak, semoga kita selalu semangat untuk terus berkarya💪🔥
    Jangan lupa mampir ke tulisanku yaa😍

    ReplyDelete
  4. Hai kak, semoga kita selalu semangat untuk terus berkarya💪🔥
    Jangan lupa mampir ke tulisanku yaa😍

    ReplyDelete
  5. Semangat terus, kak.
    Jangan lupa mampir ke tulisanku juga, ya 🙏

    ReplyDelete

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis